Rabu, 15 Agustus 2018

TELOK ABANG, KHAS 17-an di PALEMBANG

Agustus 15, 2018 12 Comments
17 Agustus 2018 ini, Negara kita Indonesia tercinta genap berusia 73 tahun, wah sudah cukup tua juga, yah. Apa sih, yang paling kita ingat di hari kemerdekaan ini selain upacara bendera?
Yah, tentu saja aneka perlombaan yang khas seperti, panjat pinang, makan kelereng eh, makan kerupuk, ding. Trus, masih banyak lagi permainan khas yang memang hanya bisa kita jumpai pada saat 17 Agustus saja.

Tapi, zaman saya kecil dulu (sebenernya sampe sekarang, sih.) waktu tinggal di Palembang, satu hal yang paling saya ingat ketika momen 17-an adalah TELOK ABANG.

Dulu, saya selalu ngiler, mupeng, apalah namanya, setiap melihat deretan telok abang berjejer di pinggir jalan, hampir di setiap sudut kota Palembang. Ngiler, ingiiin sekali beli, tapi apalah daya, zaman saya kecil dulu kami hidup pas-pasan, sehingga untuk membeli satu telok abang pun rasanya Ibu saya mikir berulang kali. Saya ga tau, apakah benar-benar karena hidup pas-pasan atau karena Ibu saya berpikir ga terlalu ada gunanya, atau karena saya ga disayang huhuhu makanya ga dibeliin, dan anehnya saya pun tidak pernah memaksa untuk minta dibelikan. Meskipun hati rasanya menjerit, “teloooookkk abaaaaaang!!”

Hahaha, ini seriyeus ghaes aku ghak lebhay, hiks.


Apa sih, Telok Abang itu?

Telok Abang itu sebuah mainan yang terbuat dari bahan gabus atau kayu dibentuk menjadi pesawat terbang dan kapal laut, dulu sih bentuknya itu saja, ga tau deh sekarang. Di tengah badan pesawat atau kapal ditancapkanlah telur (telok) yang diberi pewarna merah (abang).
Telur itu ditancapkan menggunakan lidi dan di atas lidi itu biasanya diberi bendera merah putih berukuran kecil.

Telok Abang ini, digantung menggunakan tali dan sebatang kayu. Badan pesawat atau kapal laut ini biasanya di cat warna warni agar semakin menarik dan meriah.

Jadi sebenarnya Telok Abang itu adalah Telur yang diberi warna Merah.

Sejarah Singkat Telok Abang

Asal mula Telok Abang ini dimulai sejak peringatan ulang tahun Ratu Belanda Wilhelmina II saat Indonesia masih dijajah Belanda. Untuk memeriahkannya, masyarakat Kota Palembang membuat telur yang di cat merah. Awalnya telok abang ini menggunakan telur itik, namun kini diganti dengan telur ayam.

Sejak Palembang resmi lepas dari era penjajahan Belanda, tradisi telok abang ini masih tetap diteruskan hingga kini.

Awalnya telok abang diberi pewarna kesumbo (tinta yang digunakan untuk mengecap karung beras dan gula) Karena bahan itu tidak aman untuk di konsumsi, maka saat ini para penjual mengganti pewarna kesumbo dengan pewarna makanan atau yang biasa orang Palembang kenal dengan nama abang kue.

Saya ingat, dulu pernah dibelikan Si Mbah (kakek) saya sebuah telok abang, tapi yang tidak ada telurnya, mungkin karena Si Mbah masih berpikir pewarna merah yang digunakan tidak aman di konsumsi. Selain itu, warna merah dari telok abang itu kalau sudah menempel di jari tangan susah untuk hilang, karena saya dan kakak-kakak masih kecil biasanya suka seenaknya lap di baju, gorden dan taplak meja, hahaha. Dari pada semua jadi repot, jadinya beli yang tidak pakai telur saja, selain itu harganya pasti lebih murah. (prinsip ekonomi)

Si Telok Abang ini, di ikat sama Si Mbah di tiang teras rumah, diikat agak tinggi, jadi kita menikmati indahnya telok abang dari bawah sambil ngunyah telur rebus masakan Ibu. Hmmm… dulu ini pemandangan indah bagi saya. Dan tentu saja, telok abangnya awet, tidak cepat rusak, karena cuma dipandang-pandang saja dari kejauhan.  #ngenes

Pernah, beberapa tahun lalu, ketika pulang ke Palembang pas di bulan Agustus saya melihat deretan telok abang, dan tentu saja saya langsung membeli yang paling besar dan bagus (dendam nih ceritanya) dengan harapan anak saya loncat kegirangan, exciting!

Tapi ekspektasi memang sering tidak sejalan dengan realita, ketika sampai di rumah dan langsung menunjukkan telok abang ini ke anak saya, dia hanya bertanya,

“Apaan nih, Bund?” Datar.
“Ini TELOK ABANG, Kak!” Saya SEMANGAT.
“Telok Abang? Oh…,” heniiing…

  krik… krik…krik…

“Ini hits lo kak, zaman bunda kecil dulu!” Saya masih semangat.
“Gimana cara mainnya, Bund?” mulai tertarik
“Hmm… gimana, yah, ya dilihat-lihat aja atau di gantung. Oh iya, ada telurnya loh, Kak.” Mulai putus asa.
“Telur apa tuh, Bund. Kok warnanya merah?” Penasaran atau malah geleuh.
“Telur rebus biasa, kak, tapi diberi pewarna merah.” Saya copot telurnya, sodorin ke dia, eh dia malah geleng-geleng.
Kasian sama saya kali yah, dia langsung mengelus-elus telok abang yang super besar itu dan basa basi, “bagus yah, Bund.”
“Iya, udah sana, kakak mandi, gih.” Saya usir aja sekalian.

Yah, itulah penggalan dialog antara ekspektasi vs realita.

Hmmm... begitulah, seiring dengan perkembangan zaman, mainan-mainan tradisional seperti ini mulai tersisihkan. Anak-anak pun lebih tertarik denga permainan dunia maya. Saya juga sedih ketika seorang teman berkata bahwa sudah jarang melihat telok abang ketika 17-an di Palembang.

Tapi, ada juga yang bilang, banyak di jual di daerah Jakabaring arah ke GOR Jakabaring yang akan digunakan untuk Asian Games 2018 ini.

Wah, syukurlah kalau memang masih banyak yang jual. Saya berharap masih banyak orang tua yang mengenalkan permainan tradisional ke pada anak-anaknya.

Saya juga berharap telok abang ini tetap ada sampai kapanpun, karena ini adalah peninggalan penjajahan Belanda. Agar kita juga selalu ingat, bahwa kita pernah di jajah, ditindas! Namun, saat ini kita sudah merdeka selama 73 tahun.
Semoga kita benar-benar merdeka dalam segala hal,
Merdeka dari kemiskinan, kelaparan.
Merdeka dari berita-berita hoax yang mengadu domba, memecah belah, dan memperkeruh keadaan.

Untuk saya pribadi, semoga saya benar-benar merdeka untuk menikmati gorengan dan jeroan tanpa harus memikirkan lemak dan kolestrol jahat di dalam tubuh. Aamiin #eh

No, no, no, sebenarnya saya berharap sekali bisa merdeka dari perasaan khawatir akan masa depan anak-anak saya, saya ingin merdeka dari perasaan takut; bisakah saya membimbing mereka menjadi manusia sukses baik di dunia maupun di akhirat, bisakah mereka menjadi manusia yang berguna dan selalu menebar kebaikan di Bumi yang sudah renta ini dan di Dunia yang mulai “gila” ini?

Saya hanya bisa optimis, dan terus berdoa. 
Mari Bund, Mak, kita bergandengan tangan saling menguatkan, tak perduli apakah emak fullmom atau ibu bekerja, tak peduli emak melahirkan secara normal atau operasi, tak peduli, apakah emak pecinta real food atau junk food dan saya tak pernah peduli apakah emak memberi anak emak ASI eksklusif atau dibantu sufor, saya benar-benar tidak peduli, yang saya tau tidak ada seorang ibu pun yang tidak menginginkan hal terbaik untuk anaknya dan keluarganya. 

Dan yang saya tau, se-strong apapun kita, tetaplah kita hanya manusia biasa yang masih membutuhkan pertolongan orang lain. Sehebat apapun kita, tetaplah kita seonggok daging hina yang berlumur dosa. Jadi, apa yang harus kita sombongkan? Apa yang harus kita perdebatkan?

Mari bergenggaman Mom, Bund, Mak, Bu, Mbok… saling menguatkan, saling mendoakan, merdekakan hati kita dari nyinyiran sesama emak-emak, karena seharusnya kita satu suara, "Turunkan harga Sembako!" #eh, "Hidup Emak!"

Dan, Mak, apa impian terbesar Emak di hari kemerdekaan ini?



Selamat Hari Merdeka!!






**terima kasih, sudah singgah dan meninggalkan jejak**

Kamis, 09 Agustus 2018

Penerbit Indie

Agustus 09, 2018 55 Comments


Setiap Tulisan Adalah Doa, Setiap Ilmu Adalah Amanah.

Entah kenapa, kalimat di atas tiba-tiba muncul aja di  kepala. Gegara beberapa hari lalu ditawari seorang teman sekomunitas untuk mengisi materi kepenulisan dengan tema, “Seputar Penerbitan Buku” temanya keren, yak? Saya jadi berasa sudah mastah dalam menerbitkan buku. Eits, tanya dulu, penerbit apa? Indie pastinya, hahahah… .

Entah, kenapa juga teman saya yang keceh itu memberikan amanah ini kepada saya, apakah saya terlihat terlalu “indie” hihihi. Lagian kalau diamanahkan memberi materi “mayor” saya pasti langsung melambaikan tangan ke kamera. Wkwkwk.

Ilmunya terlihat “receh” yah? Apalagi bagi teman-teman dan para mastah yang bukunya sudah sering terbit di penerbit mayor.

Tapi, bagi mereka yang betul-betul baru di dunia literasi dan ingin sekali menerbitkan buku, materi ini “daging” banget. 
Ini terbukti dari antusiasme teman-teman di komunitas Problem Solving yang sejak awal sampai akhir materi, tidak berhenti membuat jari jemari saya menari-nari di atas keyboard. Bahkan, hingga materi selesai saya masih menerima japri melalui WA dan juga telepon dari sahabat Problem Solving yang tinggal di Brunei. Wih, sebagai pemateri saya merasa senang sekali, bisa memberikan sedikit informasi yang benar-benar mereka butuhkan.

Trus, apa hubungannya dengan tagline di atas? Jadi gini, dulu waktu awal-awal pembentukan komunitas KWI (Kopi Write Indonesia) saya dan beberapa teman mimin di sana sering curcol ga jelas sampai larut malam di WA, tapi isinya tanpa kami sadari adalah doa-doa yang satu persatu mulai terwujud. Contohnya, “gaes, biasanya dari menulis lanjut jadi pembicara, loh,” dan kita mulai berhalusinasi diundang jadi pembicara dan bla bla bla…

Qadarullah, selang beberapa bulan setelah buku antologi pertama kami yang berjudul #PesanJodoh terbit, kami betul-betul diundang ke Sumedang (Jawa Barat) dalam acara Gerakan Literasi Sekolah (GLS) SMAN 1 Sumedang (sekolahnya Rossa, iya teh Ocha yang katanya deket sama Afgan itu loh, eh kok jadi ngegosip, hadew)

See, setiap tulisan adalah doa. Meskipun awalnya hanya bercanda. Jadi, mulai sekarang biasakanlah bercanda yang bermutu bukan becanda yang asal bikin ketawa #nunjukdirisendiri. 
Yah, tentu saja berdoa dan berusaha adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, tentunya.

Setelah itu, satu-persatu sahabat-sahabat saya mulai mendapat undangan menjadi pemateri, baik online maupun offline. Alhamdulillah di awal tahun 2018 kemarin kami diundang lagi dan kali ini saya yang menjadi tuan rumah, Batam. Yah, KWI diundang ke Batam untuk membersamai komunitas Ibu Profesional Batam menuliskan kisah kasihnya menjadi emak. Alhamdulillah, dalam hitungan beberapa hari lagi buku mereka yang berjudul “Jungkir Balik Dunia Emak” sudah bisa kita baca bersama. Ah, senang rasanya bisa membantu orang lain dalam mewujudkan mimpi mereka. 

Nah, kesimpulan saya, sekecil apapun ilmu atau informasi yang kita punya bisa jadi informasi besar bagi orang lain. Jadi, jangan takut-takut untuk berbagi ilmu, pasti akan ada balasannya, dari arah manapun. 

TIPS MEMILIH PENERBIT INDIE

Oh iya, salah satu materi yang ramai dipertanyakan adalah tentang tips-tips memilih penerbit indie, karena maraknya penipuan dari penerbit-penerbit indie yang tidak bertanggung jawab. Ini membuat para penulis khawatir. Memilih penerbit indie memang gampang-gampang susah (banyakan gampangnya, kan? Contoh kalimat postif, wkwkwk) pada dasarnya kita hanya harus rajin-rajin mencari informasi alias kepo abis sama penerbit indie yang kita incar. Jangan malu bertanya, biar ga sesak nafas, bagaimana tidak sesak nafas kalau naskah kamu dibawa lari penerbit yang tidak bertanggung jawab. Aku kan jadi ikut sediiih.



GOOD NEWS & BAD NEWS PENERBIT INDIE

Banyak juga yang menanyakan, 
Q : "Kak, apa sih kelemahan menerbitkan buku secara indie?" (kalimat negative, hihihi) 
A : Kenapa sih, harus fokus pada kelemahan? Kenapa tidak fokus pada kelebihan saja dulu? Ketika kita fokus pada kelebihan, segala kelemahan itu ga ada artinya lagi #eaaa
Yah, setiap pilihan itu pasti ada konsekuensinya, atau resikonya. Tapi semua itu pasti bisa kita minimalisir. 

Q : "Kak, banyak yang bilang penerbit indie itu sebagai batu loncatan para penulis pemula, yah?" 
A : Bisa jadi – bisa jadi! wkwkwk… saya termasuk didalamnya hahaha, tapi doakan yah bisa segera terbit mayor, Aaamiin. Batu loncatan? Why not? Ibarat menaiki anak tangga, satu persatu kita lewati akhirnya pasti kita berada pada anak tangga teratas. Mau selft publishing, mau indie ga ada yang salah, yang salah itu yang di penjara, eh, yang salah itu mereka yang nyinyir tapi ga punya karya sama sekali. Betuul tidaak?

Q : “Kak, banyak yang memandang sebelah mata dengan buku terbitan indie, gimana, kak?” 
A :  Yah, anggap saja dia sedang sakit mata #weeks hihihi, orang-orang seperti ini akan selalu ada dan sering juga bikin saya baper hu hu hu… meskipun kita sudah terbit mayor juga, pasti akan tetap ada yang memandang sebelah mata. Tapi, kalau setiap pandangan negative mereka kita jadikan pemicu untuk berkarya lebih baik lagi, point plus buat kita! Karena itulah, penting sekali untuk menjaga kualitas tulisan kita. Meskipun terbit indie, isinya harus keren dan berkualitas. Jangan asal terbit. 





DAFTAR PENERBIT INDIE

Q : “Kak, kasih penampakan dong, nama-nama penerbit indie.”
A : Penampakan? Lu kate ini acara Dunia Lain?  hehehe.

Nyooohh… kepoin beberapa nama-nama penerbit indie di bawah ini, yah! Mudah-mudahan tulisan kalian menemukan jodohnya di salah-satu daftar yang saya rangkum ini. Sebenernya masih banyak lagi nama-nama penerbit indie, tapi menurut beberapa survey, penerbit di bawah ini cukup recomanded. Semoga berjodoh!



Untuk teman-teman yang membutuhkan sedikit informasi mengenai penerbit indie, sile, jangan sungkan-sungkan yah menghubungi saya. Siapa tau, saya dan teman-teman KWI bisa membantu.

Semoga bermanfaat!







Teruslah menebar manfaat, untuk tabungan di akhirat 💕







Minggu, 01 Juli 2018

Menemukan Titik Terang, Menemukan Jalan Pulang

Juli 01, 2018 19 Comments
Assalamualaikum,
Haloo semua, lama ga nulis di blog ini. Sumpah kangen berat! Padahal buanyak banget ide cerita yang berseliweran di kepala. Saking banyaknya bingung mau nulis yang mana. Heu … ini lah balada emak penulis super rempong, pulang mudik ditinggal asisten, anak-anak masih libur, emak sudah mulai ngantor. Yang ada setiap pagi kaki berat banget ninggalin anak-anak berangkat kerja. Eh, malah curcol.

Ngomongin soal mudik lebaran kemarin, meninggalkan kenangan indah akan keseruan kumpul keluarga besar, heboh dari anak-anak sampai emaknya. Selain meninggalkan kenangan indah, mudik kemarin juga meninggalkan pegal - pegal di sekujur tubuh, juga sekujur ATM (keseringan digesek) hihihi.
Untuk urusan pegal – pegal saya tidak khawatir lagi, karena sudah lama punya langganan pijat dan bekam kering di dekat rumah. Jadi, kalau butuh tinggal sms, dan mereka pun datang. Alhamdulillah cocok banget.

Sebenarnya sudah lama juga ingin menuliskan kisah tentang ibu pijat langganan saya ini. Karena cukup unik juga cara mereka kerja. Tapi baru kali ini saya sempatkan, karena baru saja mendengarkan kisah yang sangat luar biasa dari mereka. Malam ini saya dibekam sambil berkaca-kaca bukan karena kesakitan tapi karena mendengarkan cerita pilu tentang kehidupan masa lalu mereka.

 Sejak pertama mereka datang ke rumah saya, saya sudah simpati dengan mereka. Kenal mereka satu tahun yang lalu dari asisten rumah tangga saya yang lama. Awalnya sih ragu karena belum pernah di bekam tapi karena badan sudah remuk redam akhirnya saya coba saja. Akhirnya sampai hari ini saya masih menggunakan jasa mereka.

Mereka adalah seorang ibu dan anak perempuannya. Si Ibu sebenarnya sudah cukup tua, bisa dibilang sudah nenek-nenek tapi masih gagah, pijatannya pun masih cukup kuat. Dan anaknya kurang lebih berusia 40 tahunan. Dulu saya pikir, si anak hanya mengantar ibunya saja atau sebaliknya. Ternyata saya salah, dua-duanya “ngerjain” badan saya. Saya hanya bisa pasrah “dikeroyok” dua wanita perkasa ini hihihi. Apalagi setelah saya merasa “keroyokan” mereka enak, saya bukan hanya pasrah tapi rela hehehe ngomongin apa sih?

Ternyata kerjasama ibu dan anak ini sangat baik dan sistematis (aseekk) Si Ibu yang memijat dan anaknya yang membekam terkadang sebaliknya. Tangan mereka berdua juga adem banget di badan, saya pun nyaman. Jadi tidak ada kekhawatiran salah pijat atau apapun namanya. Maklum saya sempat parno dengan tukang pijat karena pernah terjadi pembengkakan otot pinggul akibat pijatan yang terlalu keras, sehingga saya harus dilarikan ke rumah sakit karena tidak bisa rukuk ataupun duduk dengan sempurna. Rasanya sakit luar biasa. Tapi sudahlah, lupakan saja, kalau ingat masa-masa itu rasa ngilunya seakan datang lagi, heu.

Luka dan Hijrah

pic.by.pixabay


Biasanya sambil di bekam saya sempatkan untuk ngobrol dan bertanya seputar pengalaman memijat. Ternyata ibu ini bisa dibilang terapis international, yah meskipun hanya seputaran Singapore dan Malaysia tetap saja itu sebuah prestasi yang tidak biasa. Bahkan dulu ketika masih gagah-gagahnya si ibu sering dipanggil untuk memijat oleh keluarga kerajaan di Malaysia. 

Saya tidak pernah menanyakan hal-hal pribadi kepada mereka, seperti, suaminya kemana? Kenapa sampai merantau dari Jawa ke Batam dan menjadi tukang pijat. Meskipun ingin sekali tetapi saya tahan, khawatir membuka kenangan lama dan membuat suasana jadi tidak nyaman.

Tapi, akhirnya sedikit demi sedikit mereka justru bercerita sendiri. Entahlah, mungkin karena merasa nyaman juga dengan saya yang tidak terlalu “kepo” ini. Atau justru memang ini adalah jalan Tuhan agar saya juga mengambil pelajaran dari orang yang tidak disangka-sangka. 

Saya yakin, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Curhatan mereka juga bukan hanya sekedar curhatan biasa tapi sebuah pelajaran yang mungkin Allah ingin saya pelajari sendiri langsung dari sumbernya. Saya merasa tertampar mendengar anaknya bercerita tentang masa lalunya yang pilu. Yang selama ini saya pikir hanya ada disinetron ga jelas di televisi swasta.

Awalnya malam ini saya hanya meminta mereka datang untuk bekam dan pijat seperti biasa, tapi saya malah merasa mendapatkan siraman rohani, adeeem banget. Biasanya meraka datang berdua, kali ini datang bertiga dengan seorang anak perempuan berumur sekitar 9 tahun. Saat itu saya tidak menanyakan ini anak siapa, saya hanya langsung tergerak mengambilkan anak itu sepatu roda punya anak sulung saya karena saya melihat mata anak ini tidak lepas dari anak bungsu saya yang asik putar-putar sendiri dengan sepatu roda di halaman depan rumah. Anak itu pun menerima sepatu roda dengan senang hati. Kami pun beranjak ke kamar meninggalkannya bersama Si Bungsu yang langsung welcome karena mendapatkan teman bermain. 

Ketika saya sedang menyiapkan kasur pijat dan bersiap-siap menyerahkan jiwa dan raga saya untuk di “keroyok” tiba-tiba Si Mbak, anaknya Si Ibu ini langsung bercerita dengan wajah dan nada bicara yang semringah. Dia menceritakan bahwa anak perempuan yang dibawa tadi adalah anaknya yang sudah 8 tahun tidak berjumpa. Dulu, ketika umurnya masih delapan bulan anak ini diambil paksa oleh suaminya, sedangkan dia diusir dari rumah. Antara shock dan sedih bercampur aduk dengan sakit hati gegara suami mau menikah lagi, entah bagaimana ceritanya Si Mbak ini bahkan sempat tinggal di kandang ayam, demi tetap bisa melihat anaknya.

Singkat cerita Si Mbak ini bangkit lagi dan hijrah ke Batam mengikuti jejak ibunya. Delapan tahun menjanda, delapan tahun tidak bertemu dengan anaknya, delapan tahun juga memendam perasaan yang bercampur aduk. Satu hal yang dia tau bahwa selama ini suaminya sudah dua kali menikah lagi dan tidak satupun dari istri mudanya berlaku baik terhadap anak kandungnya. Tapi hebatnya selama delapan tahun juga Si Mbak ini tidak berputus asa. Selalu mendoakan yang terbaik untuk anak dan mantan suaminya. Karena dia berpikir, kalau suaminya menderita anaknya juga pasti akan menderita. Jadi intinya Si Mbak ini sudah benar-benar ikhlas dan memaafkan perlakukan buruk suaminya, yang penting mereka bahagia. 

Hebat yah! Oh iya, satu lagi. Ternyata selama delapan tahun ini Si Mbak tidak pernah berputus asa dalam  berdoa, mau tau doanya apa?  “Ya Allah, jika memang dia (suami) terbaik untukku, kembalikanlah dia padaku.” 
What?! Sudah disakiti sedemikian hebat ternyata Si Mbak masih menyimpan harap suaminya akan kembali lagi. Saya langsung speechless, badan yang tadinya pegal luar biasa, pijatan yang tadi masih saya nikmati kini rasanya hambar. Saya sudah tidak peduli lagi dengan bekam dan yang lainnya. Saya sibuk menata detak jantung dan air muka agar tetap santai. “Wolesss, ini kisah orang lain ngapain situ yang emosi.” Batin saya.

Menemukan Titik Terang, Menemukan Jalan Pulang

pic.from @dhuhalover


Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya, setelah delapan tahun semua doa Si Mbak ini terkabulkan. Beberapa hari sebelum lebaran, sang mantan suami menelpon, mengajak rujuk dan memintanya untuk datang ke Jawa guna menjemput anak perempuannya yang selama ini tidak pernah ia jumpai. Suaminya meminta waktu tiga bulan untuk mengurus perceraian dengan istri mudanya dan lain sebagainya. Tanpa pikir panjang Si Mbak langsung bersedia, dengan bismillah dia menyambut baik semua permintaan mantan suaminya. Dengan bismillah dia bersedia merajut lagi mimpi-mimpi yang pernah dihempas badai kehidupan.

Sekali lagi saya speechless, melongo, dan tentu saja pastinya saya ikut bahagia untuk Si Mbak ini. Dan tidak terbayangkan betapa bahagia hatinya.
Akhirnya saya beranikan diri untuk bertanya, “Mbak, apa rahasianya kok mba tidak dendam sedikitpun dengan mantan suami mbak?”
“Al Ikhlas mba, saya mengamalkan dan benar-benar belajar dari surat itu. Karena itu satu-satunya surat pendek yang gampang dihapal. Dan sesuai dengan nama suratnya mba, saya ingin ikhlas.” Jawabnya masih dengan muka yang semringah sambil memijat jari-jemari saya.

Plakkk!! Kali ini saya benar-benar merasa ditampar dan maluuuuu sekali dengan diri saya sendiri. Gaya-gayaan khatam quran tapi tak satupun nyantol di kehidupan saya sehari-hari. Tidak satupun saya pelajari dan amalkan dengan sungguh-sungguh. Ampun yaa Allah.

Ketika saya merasa baik, merasa sudah taat beribadah. Ternyata saya salah, ternyata saya belum apa-apa dalam hal ketaatan. Masih harus terus belajar. Terus berjuang dan berbekal. 
Kini saya sadari ternyata kita hanyalah insan yang sedang mencari jalan pulang terbaik, yang sering dihadapkan pada persimpangan yang membingungkan bahkan menyesatkan.

Jadi teringat tulisan yang sangat indah dari ustadzah Irena Handono yang berjudul Mencari Jalan Pulang.

Mencari Jalan Pulang

Kita bukan penduduk bumi…
Kita adalah penduduk surga…
Kita tidak berasal dari bumi…
Tapi kita berasal dari surga.
Maka carilah bekal untuk kembali ke rumah…
Kembali ke kampung halaman…
Dunia bukan rumah kita…
Maka jangan cari kesenangan dunia.
Kita hanya pejalan kaki dalam perjalanan kembali ke rumah-Nya.
Bukankah mereka yang sedang dalam perjalanan pulang selalu mengingat rumahnya dan mereka mencari buah tangan untuk kekasih hatinya yang menunggu di rumah?
Lantas….
Apa yang kita bawa untuk penghuni rumah kita, Rabb yang mulia?
DIA hanya meminta amal sholeh dan keimanan, serta rasa rindu padaNya yang menanti di rumah.
Begitu beratkah memenuhi harapanNya?
Kita tidak berasal dari bumi…
Kita adalah penduduk surga…
Rumah kita jauh lebih indah di sana.
Kenikmatannya tiada terlukiskan…
Dihuni oleh orang-orang yang mencintai kita…
Serta tetangga dan kerabat yang menyejukkan hati.
Mereka rindu kehadiran kita…
Setiap saat menatap menanti kedatangan kita…
Mereka menanti kabar baik dari Malaikat Izrail…
Kapan keluarga mereka akan pulang?
Ikutilah peta (Al-Quran) yang Allah titipkan sebagai pedoman perjalanan…
Jangan sampai salah arah dan berbelok ke rumahnya Iblis Laknatullah yaitu jalan ke Neraka Jahannam.
Kita bukan penduduk bumi…
Kita penduduk surga..
Bumi hanyalah dalam perjalanan…
Kembalilah ke rumah.


Bisa jadi sepenggal kisah haru dari Si Mbak pijat ini merupakan jawaban atas ketidak sabaran saya dalam menanti terkabulnya doa dan penantian saya akan jawaban dari setiap tanya yang berulang.

Untuk Ibu pijat dan Si Mbak, kalian bukan hanya terapis hebat tapi inspirator hebat dan wanita-wanita tangguh yang pernah saya jumpai. Selamat yah mbak, akhirnya suami mbak menemukan jalan pulang lagi. Semoga berkah yah Mbak.

Selalu ada alasan untuk setiap kejadian. Kita bukanlah orang-orang yang kebetulan dipertemukan. Kisah ini juga bukan hanya kebetulan semata singgah di layar laptop atau gawai kalian. Selalu ada alasan. Selalu ada hikmahnya. 

Yakinlah, setiap tanya pasti ada jawabnya
Setiap resah akan reda
Bersabarlah
Ikhlas.

Mohon maaf lahir batin, mohon maaf apabila ada kata yang kurang berkenan. Kesempurnaan hanya milik Allah semata.

Salam hangat dari Batam.
HeNee yang Bahagia.


pic.by.pixabay

Kamis, 07 Juni 2018

Horison Ultima King's Batam

Juni 07, 2018 12 Comments

Horison Ultima King's Batam. Hotel bintang 4 yang letaknya cukup strategis, dekat dengan kawasan Nagoya dan pusat perbelanjaan. Bisa dijadikan sebagai hotel transit juga sebelum menyebrang ke Singapore atau sebagai tempat refreshing, sejenak melepas lelah setelah seminggu bekerja. Nikmati pemandangan kota Batam di malam hari dengan kerlip lampu yang berwarna warni, cukup memberi suasana baru yang seru.

 

                                                               Sumber : Horison Ultima King's Batam (fb)


Hotel ini cukup unik karena dibangun di pinggir tebing, hal ini justru memberi keuntungan tersendiri bagi Horison Ultima King's Batam, karena bisa menyajikan pemandangan berbeda dari hotel-hotel lain yang terletak di tengah kota Batam. Tentunya salah satu pemandangan terindah di Kota Batam bisa di nikmati dari sini.



 Sumber : Horison Ultima King's Batam (fb)

Keunggulan Hotel Horison Ultima King's Batam :

Kamar yang nyaman dan fasilitas yang memadai. Menjadikan hotel ini patut dipertimbangkan untuk dijadikan tempat menghabiskan weekend bersama orang-orang tercinta  Oh iya, hotel ini juga dilengkapi dengan fasilitas kolam renang yang terdiri dari kolam renang anak dan dewasa.

                                                             Sumber : Horison Ultima King's Batam (fb)




Horison Ultima King's Batam mempunyai lobby yang cukup luas dengan interior semi mediteranian menjadikan kita para tamu sangat betah duduk-duduk manis sambil foto-foto manjah #eeaaa
                                                                                     Sumber : Horison Ultima King's Batam (fb)


                                                                                         Sumber : Horison Ultima King's Batam (fb)


Romantic Dinner? Yah disini tempatnya. Asher Bistro & Lounge, berkonsep in door dan out door yang letaknya di lantai 11 yang otomatis menyajikan hamparan pemandangan indah menambah romantis suasana dinner Anda dengan orang-orang tercinta.


 Sumber : Horison Ultima King's Batam (fb)

Berkonsep Hotel Go Green, ini terbukti dengan begitu banyak tanaman hijau di sekitar hotel. Mengurangi penggunaan plastik. Menghemat penggunaan listrik, hal ini terlihat dari jendela kaca yang dibuat besar agar cahaya matahari dapat menjadi sumber penerangan di siang hari. Mengolah limbah air, sehingga sebelum dibuang air tidak mengandung zat berbahaya.

Free shuttle bus. Setiap hari siap mengantarkan  tamu yang berencana untuk shoping di Nagoya Hill Mall dan BCS Mall

Satu lagi yang paling penting, urusan lambung tengah. Yup! Sarapan pagi. Kita akan menikmati sarapan pagi  di lantai 11 Suasana semi out door kesukaan hampir setiap orang, karena menghadirkan suasana yang alami, sarapan nikmat dengan berbagai menu tradisional maupun internasional sambil menikmati suasana pagi di kota Batam. Ah, nikmat.




Ramadan kali ini Horison ultima King's Hotel menyediakan aneka paket berbuka dengan menu yang menggiurkan dan harga yang cukup terjangkau.




sumber : Horison Ultima King's Batam (fb)








Sekilas Info :


  • Jarak antara Hotel Horison ke Nagoya Hill Mall 2,8 KM dengan jarak tempuh  kurang lebih 7 menit
  • Jarak antara Hotel Horison ke Harbour Bay International Ferry Terminal 5,1 KM dengan jarak tempuh kurang lebih 9 menit.
  • Jarak antara Hotel Horison menuju pusat perbelanjaan di Nagoya : Tas, Parfum, Aneka Cokelat dan lain-lain sekitar 3 KM dengan jarak tempuh kurang lebih 7 menit



Hotel ini cukup recomanded, patut dipertimbangkan untuk menjadi salah satu pilihan menginap di kota Batam.

Selamat menikmati Batam 😍

Kamis, 31 Mei 2018

Ngabuburit di Perpustakaan Mesjid Jabal Arafah Batam

Mei 31, 2018 14 Comments





Alhamdulillah, bulan Suci Ramadhan tahun ini sangat syahdu. Hampir setiap hari Batam diguyur hujan, matahari pun hanya mengintip malu-malu di balik awan tebal. Adem. 

Sebagai emak yang mempunyai anak usia 7 tahun dan alhamdulillah tahun ini menjadi ibadah puasa ke dua untuk anak bungsu saya, Dek Yaya. Saya sering bingung cara apa yang harus dilakukan untuk menghabiskan waktu dan menghindari pertanyaan yang berulang-ulang, "Sudah jam berapa, Bun?" atau "Berapa detik lagi Bun kita buka puasa?" hehehe pertanyaan yang sering emak-emak dengar jika mempunyai buah hati yang masih belajar berpuasa. Jawabannya juga pasti hampir sama, "Sebentar lagi, Nak. Sabar yah." padahal masih jam 10 pagi hehehe.







Kalau lagi libur kerja (Sabtu-Minggu) biasanya saya menemani Dek Yaya nonton chanel youtube kesukaannya yaitu Gen Halilintar, sambil saya membujuknya untuk tadarusan setelah salat Juhur atau Ashar. Tapi kali ini akhirnya saya punya rencana berbeda. Mengajaknya ke toko buku itu sudah biasa. Tapi mengajak dek Yaya ke perpustakaan itu adalah hal baru buat kami berdua. Sejujurnya, belasan tahun tinggal di Batam sekali pun saya belum pernah berkunjung ke perpustakaan. Bukan karena ga tau letak perpustakaannya di mana tapi karena kurang tertarik juga. Hihihi, ampuuun.

Tapi, perpustakaan yang satu ini cukup menarik perhatian saya. Karena mendengar cerita dari Kak Ara (anak sulung saya) yang malah sudah ke perpus ini duluan. Perpustakaan ini terlihat seperti one stop happiness gitu hehehe lebay.

Eh, tapi seriusan. Perpustakaan Masjid Jabal Arafah ini tempatnya cukup nyaman, buku-bukunya juga cukup beragam. Sebenarnya ada alasan khusus juga sih kami datang ke sini. Yaitu berbagi buku antologi cernak punya saya dan dan cernak perdananya Kak Ara. Kebetulan saya lihat koleksi buku anak-anaknya belum cukup banyak. Semoga buku kita bermanfaat di sini yah Kak Ara.

Kenapa saya bilang kalau ke mesjid Jabal Arafah itu bagai one stop happiness?
Pertama, karena kawasan mesjid ini sangat nyaman, tempat wudhu yang luas dan bersih, sejadah yang empuk, mukena yang harum dan pemandangan yang indah. Jadi, seperti wisata religi gitu. 




                                        foto koleksi dari fb Mesjid Jabal Arafah


foto: nomnomstory

Kedua, karena di sini ada beberapa fasilitas lain tidak hanya perpustakaan, tapi ada juga cafe, toko busana muslim dan perlengkapan salat. Ada mini market juga, air mancur dan aneka ikan berwarna warni juga sangat menarik perhatian dan satu lagi yang menjadi daya tarik tersendiri, di mesjid ini kita bisa naik ke atas menaranya dan menikmati suasana Nagoya dan sekitarnya dengan mata telanjang atau menggunakan teropong. Sayangnya terakhir kami kesana teropongnya semua sedang rusak. Semoga segera diperbaiki dan bisa digunakan lagi seperti dulu yah.


Jadi, ngabuburit di perpustakaan Mesjid Jabal Arafah Batam ga kalah seru dengan ngabuburit di tempat lain. Setelah lelah hunting persiapan mudik atau persiapan lebaran di Nagoya Hill Mall, leyeh-leyeh di sini bisa jadi pilihan tepat.

Selamat menjalankan ibadah puasa yah!
Salam hangat dari Batam ❤






Selasa, 08 Mei 2018

Quality Time in Styles - From Ibis Styles

Mei 08, 2018 17 Comments

Quality time in styles ~ Occasion in styles ~ Vacation in styles ~ We do it in styles


Hello travelers, staycationers or whatever. Jika kalian singgah di Batam untuk urusan kerja, bisnis, atau memang sengaja melipir ke Batam sebelum nyebrang ke Singapura, hotel yang satu ini bisa jadi pilihan untuk bermalam.

Hotel yang penuh gaya dan ramah ini berada di tengah kota Batam. Tepatnya di jalan Yos Sudarso, dekat dengan salah satu mall terbesar di kota Batam yaitu Nagoya Hill Mall.







Hotel yang penuh warna ini mempunya gaya dan design tersendiri. Konsep interior yang diusung oleh management Ibis Styles ini mirip seperti port atau pelabuhan yang unik. Hal ini bisa dilihat pada meja receiptionis dan koridor kamar hotel begitu juga interior kamar sangat unik dan penuh gaya. Cocok untuk yang berjiwa muda, serta untuk kalian yang hangout bersama family dan kerabat, karena hotel ini memiliki konsep outdoor yang menyenangkan.


Hotel bintang 3 yang mempunyai fasilitas bintang 4 ini memiliki dua kolam renang, dan palyground yang cantik, cocok untuk kalian yang membawa buah hati. Hotel ini juga mempunya ballroom yang bisa menampung hingga 600 orang. Selain ballroom ada 7 ruang pertemuan yang ukuran dan kapasitasnya bisa disesuaikan dengan kebutuhan kalian. Mushola yang cukup nyaman juga disediakan oleh management hotel.



Satu hal yang tak kala bergaya lainnya adalah restorannya. Memiliki konsep setengah outdoor yang sangat cozy dan yang paling gaya lagi harga makanannya hampir rata-rata di bawah dari harga hotel kebanyakan. Restaurant ini mempunya paket 'Nasi Kroyokan" atau eat no plate jadi makan pakai daun pisang gitu, yang bisa kalian makan ber-4 bahkan ber-6 karena porsinya yang cukup besar dengan harga yang cukup terjangkau yaitu IDR 120.000 saja per paket. Tapi ingat, jika kalian berminat harus booking 1 hari sebelumnya atau 3-4 jam sebelunya karena peminantnya cukup banyak, apalagi pada jam makan siang.


Quality time di hotel ini bersama keluarga sama atmosfernya dengan staycation di resort - resort mahal di luar sana. Bedanya disini kita tidak bisa menikmati sunset dan sunrise saja.


Sekilas jika kita bermalam di hotel ini terlihat seperti susah cari tempat makan, karena di pinggir jalan besar. Padahal berjalan kaki sekitar beberapa meter saja kita sudah sampai di Kampung Rujak. Ditambah lagi beberapa meter sudah sampai di pusat perbelanjaan Giant. Berbagai makanan ada di kawasan itu, dari bakso, mi ayam, soto, ayam bakar, rujak cingur, gado-gado dll 

Kalau kehabisan uang, jangan khawatir. Tepat di sebelah hotel Ibis Styles ini ada perkantoran BUMN yang mempunya gerai ATM, tinggal tarik uang di sana yah ghaes. Tarik sebanyak-banyaknya trus lanjut belanja ke Nagoya #ehh

So, mau vacation with styles? Ya stay di Ibis Styles :)

Sekilas info :
  1. Hotel ini baru launching tahun 2017 lalu, tapi jangan salah hotel ini hampir selalu full book. Jadi jika mendadak booking berdoa saja semoga dapat room yah.
  2. Jarak tempuh antara Bandara Hang Nadim Batam ke Ibis Styles sekitar 19.1 KM (26 menit)
  3. Jarak dari Ibis Styles ke pelabuhan terdekat (Harbour Bay) sekitar 4,6 KM (11 menit)
  4. Jarak antara Ibis styles ke Nagoya Hill Mall dan sekitarnya (Nagoya) sekitar 2,3 KM (7 menit)
  5. Alamat lengkap dan info kamar : Jalan Yos Sudarso, Bengkong Laut, Batam Kota, Kepulauan Riau 29444 Telp. (0778) 5707000 untuk info lebih lanjut langsung ke https://www.accorhotels.com/id/hotel-9758-ibis-styles-batam-nagoya/index.shtml

Tips Wisata Belanja di Batam:
  1. Biasanya wisatawan lokal yang singgah ke Batam selalu mencari barang electronik, laptop dan HP. Tapi ingat, ada batas maksimal jumlah barang yang bisa dibawa keluar Batam.
  2. Berburu tas dan parfum. Dua barang ini biasanya menjadi incaran para wisatawan wanita, ibu-ibu maupun anak remaja. Katanya di Batam surganya tas dan parfum. Banyak wisatawan lokal yang menjadikan kedua barang ini sebagai oleh-oleh. Sekali lagi ingat yah, jangan bawa dengan jumlah yang berlebihan jika tidak ingin berurusan dengan petugas Bea Cukai dan usahakan juga nota pembeliannya jangan sampai hilang. Untuk jaga-jaga saja. 
  3. Untuk kalian yang berniat melakukan wisata belanja dan melakukan "tawaf" di seputaran Nagoya, keluar masuk dari satu toko ke toko lainnya. Jangan lupa tenaga dan uang extra harus  disiapkan yah, pakai alas kaki yang nyaman. Botol air minum diisi penuh. Jangan sungkang-sungkan untuk menawar. Apalagi kalau barangnya KW, super, semi apapun itu tawar saja! #hajarr Jangan takut dibilang turis kere, dari pada kena tipu. #hiks 
                                  Be a smart buyer, be a smart traveler. See Yaa!

Batam, 08 Mei 2018
Heni yang Bahagia.



Jumat, 04 Mei 2018

Enjoy Malang and Beyond

Mei 04, 2018 10 Comments
Perjalanan menuju Batu Malang bersama teman-teman kantor dan keluarga ini, termasuk salah-satu perjalanan yang tidak terlupakan.

Banyak hal-hal baru dan menyenangkan yang kami jumpai. Perjalanan dimulai dari Batam menuju Surabaya lalu lanjut ke Batu - Malang dengan menggunakan bus. Perjalanan kali ini masih bersama  Nusantara Tour & Travel. Travel ini sudah dua kali membersamai kami, yang pertama ketika ke Yogyakarta, wiihh kapan-kapan saya ceritakan keseruan kami menjelajah Gunung Merapi dengan menggunakan Jeep yah. Pengalaman tak terlupakan pokoknya!


Lanjut ke perjalanan menuju Batu, sesampainya di Batu hari sudah malam, alhamdulillah disambut hujan gerimis yang menambah dinginnya malam itu di kota Batu. Kami menginap di eL Hotel Batu, sampai di eL Hotel kami tidak langsung masuk kamar, hanya menurunkan beberapa barang dan beberapa teman yang sudah melambaikan tangan ke kamera, adek nyerah bang. Hehehe


         
 (maaf raftingnya salah tulis, harusnya applesun kok jadi uluwatu yah, maaf yah)


  • BATU NIGHT SPECTACULAR (BNS)

Beberapa dari rombongan termasuk saya sekeluarga lanjut naik ke bus menuju BNS, Batu Night Spectacular. Seperti judulnya tempat wisata ini memang buka di malam hari saja. Ada banyak wahana permainan di dalamnya dan tentu saja banyak lampion-lampion raksasa berwarna warni kontras dengan malam yang gelap.

Tak terasa waktu hampir menunjukan jam 12 malam, wah berabe nih, upik abu harus segera meninggalkan istana lampion, kalau tidak segera pergi, bisa-bisa akan berubah menjadi Cinderela ehh kebalik yah hihihi.

Sebelum balik` ke hotel, cari yang anget-anget dulu. Sekoteng dan jagung rebus menjadi pilihan. Hmmm... lambung tengah sudah aman, siap-siap bobok cantik di eL Hotel. Ga perlu pake AC udah dingin buangeettt.


  • APPLESUN LEARNING CENTRE RAFTING

Keesokan paginya setelah sarapan, kami langsung menuju Applesun Learning Centre Batu-Malang untuk rafting. Sebelum rafting kami pemanasan dengan beberapa permainan ice breaking dan diberi sedikit pengarahan untuk keselamatan. Wuiihh raftingnya seruu, meskipun medannya kurang menantang karena banyak anak-anak yangg ikut, tapi itu saja sudah asik banget. Rafting dilakukan selama kurang lebih 2 jam menyusuri sungai, alhamdulillah salah satu bucketlist saya sudah dicentang "done!" hehehe sudah bertahun-tahun ingin rafting akhrinya kesampaian juga.



  • KUSUMA ARGOWISATA PETIK APEL

Setelah puas rafting dan menikmati bakso malang yang endesnya ga ketulungan #lebay eh ga lebay ini beneran bray hehehe. Tujuan selanjutnya adalah ke kebun apel dan katanya bisa petik apel sepuasnya eh ternyata salah persepsi, petik apelnya cuma boleh dua biji per orang. Tapi, kalau makan di sana baru boleh makan sepuasnya.

Di Kusuma Argowisata ini bukan hanya kebun Apel tapi ada kebun buah naga juga. Kebunnya luas banget, ada kolam renang juga. Pokoknya cocok untuk mengajak keluara berlibur. Tapi ingat, siapkan stamina yah, agar tetap fresh selama menikmati liburan disini.


  • MUSEUM ANGKUT

Perjalanan kami lanjutkan menuju Museum Angkut. Awalnya saya bertanya-tanya ini Museum apaan sih? Sedikit under estimate gitu. Setelah sampai di sana, wuaahh... keren ghaes! Betah berlama-lama disana. Tempatnya luas banget, siap-siap stamina yah kalau kesini jangan pakai heels ghaes pakai sneakers atau sendal jepit aja, pokoknya yang nyaman. Agar kalian bisa dengan nyaman juga berkeliling di kawasan Museum Angkut yang luas ini. Sumpah keren!

Apa sih isinya Museum Angkut ini? Isinya tentu saja berbagai alat transportasi dari jaman nenek moyang kita sampai alat transportasi canggih jaman now. Tempat wisata ini memang tidak seperti tempat lainnya. Konsepnya luar biasa dan hebatnya Museum Angkut ini tercatan sebagai museum trnasportasi pertama yang ada di Asia. Tidak heran museum yang dibuka sejak 2014 ini selalu ramai pengunjung.

Ada beberapa zona di museum angkut ini, yang bisa dikunjungi satu persatu. Rasanya rugi kalau tidak disamperin satu-satu hehehe soalnya memang keren-keren semua. Ada beberapa zona yang atmosfernya seperti bukan di Malang atau di Indonesia. Mirip-mirip di Thailand tapi saya lupa apa nama wisatanya. Ah, pokoknya keren. Recomanded untuk wisata yang mengedukasi pengunjungnya.

Zonanya antara lain,

  1.  Ruang Utama 
  2.  Edukasi
  3.  Sunda Kelapa dan Batavia
  4.  Uni Eropa
  5.  Gangster & Broadway
  6.  Holiwood
  7.  Las Vegas
  8.  Flight Training
  9.  Pasar Apung

Hmmm... ada zona apa lagi yah, kalau ada yang kurang silahkan ditambahkan yah hehehe. Kalau kamu ke museum ini pastikan kamu kunjungi semua zonanya jangan takut kelaparan karena di zona pasar apung ada berbagai macam makanan tradisional yang enak-enak dan tentu saja dengan harga yang terjangkau.

Setelah beberapa jam di museum ini perjalanan kami lanjutkan. Makan malam di Ria Jenaka, mampir ke toko oleh-oleh dan lanjut ke Surabaya untuk bermalam di sana, karena besok pagi kami harus kembali ke Batam.

 Alhamdulillah perjalanan 3D2N ini cukup memenuhi memori kami dengan hal-hal yang positif, selain mempererat tali silaturahmi tentu saja untuk menambah wawasan, juga mensyukuri dan menikmati indahnya alam yang telah diberikan oleh Maha Pemilik Keindahan.
Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan.


Cerita tentang Batu - Malang saya cukupkan dulu, semoga saya diberi kemampuan untuk menuliskan jejak perjalanan saya sejak jaman SMA hingga kini. Lampung, Bandung, Bali, Semarang, Balikpapan, Yogyakarta, Singapura, Malaysia-KL, Thailand dan lain-lain.

Ah, semoga jejak perjalanan ini bermanfaat paling tidak untuk anak-anak saya. Saya akan menyemangati mereka untuk menikmati indahnya dunia.

Pergilah Nak, lihatlah dunia, nikmati dan ambillah pelajaran dari setiap langkah yang kau jalani, tinggalkan jejak kebaikan Nak, di mana pun kau berada.





Batam, 05 Mei 2018
Heni yang Bahagia.