TERE LIYE

By Unknown - Februari 08, 2018




Tere Liye
(Berhasil membuka acara Jumpa Penulis dengan jleb!)
Masuk panggung dengan cuek sambil menggeret kursi plastik, tas ransel bergelayut manja di pundaknya. Sendal jepit selalu setia menemani langkahnya. Sweater coklat muda kesayangannya mesra merangkul lehernya. (jangan pada cemburu yah)
Hari ini saya benar-benar bersaksi, bahwa se-alim apapun Tere Liye, berapa kalipun dia bolak balik pergi haji & Umroh, tetap dek… dia tidak akan pernah mengenakan jilbab! Baik itu jilbab syar’i ataupun jilbab lilit! Karna Tere Liye benar-benar laki-laki tulen dek! 
Hari itu dia mengaku bahwa dia kurang enak badan, tapi suaranya tetap lantang dan setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya, seakan-akan menampar-nampar seluruh jiwa yang hadir di Taman Ismail Marzuki pagi itu. Terutama saya.
Tak lama dia meminta air putih kepada panitia, lalu datanglah meja kaca kecil dan segelas besar minuman yang mungkin bersoda dari resto cepat saji ternama, langsung dia menolak “ini produk pendukung LGBT” katanya, dan menyingkirkan gelas plastik berisikan minuman khas salah satu resto cepat saji itu, dia sembunyikan didalam kolong meja. “saya minta air putih saja” ucapnya tegas. Keren!
Tak lama, dia mulai menceritakan perjalanan menulisnya, sambil terus memotivasi seluruh peserta calon penulis Best Seller pada pagi itu ( Aamiin)
Btw... hari ini saya akan buat satu pengakuan… jujur selama ini saya belum pernah membaca satupun novel karangan beliau. Terus terang saya paling malas baca novel. Selain tidak ada gambarnya rata-rata berisi ratusan halaman, lelah hayati. 
Tapi beberapa bulan yang lalu entah kenapa (mungkin saya khilaf ) saya membeli 3 bukunya, 1 kumpulan puisi (yang langsung saya baca dan menurut saya isinya kurang nampol, I’m sorry to say) dan yang 2 lagi novel yang belum saya sentuh sekalipun. Anehnya sebelum berangkat ke Sumedang Jumat pagi itu untuk mengisi seminar kepenulisan bersama tim KWI (13 Oktober 2107) saya buka lemari buku saya dan mengambil salah satu buku dan entah mengapa mata saya langsung tertuju pada buku bersampul hijau, langsung saya masukan kedalam tas kulit merah kesayangan saya. Buku itu berjudul “Daun yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin”. Buku itu hanya duduk manis didalam tas saya sampai hari senin pagi (16 Okt 2017) di Bandara Soetta, saya baru tergerak membaca buku itu, karna penasaran apa isi novel itu sambil membayangkan gaya bang Tere Liye yang cuek, simple apa adanya.
Tere Liye, saya tidak akan membahas semua materi yang dia sampaikan di acara Jumpa Penulis minggu pagi kemarin, karna kalau membahas itu status ini bisa jadi panjaaang dan lebaaaaaarr. Dari sayur rebung masakan mamaknya tercinta sampai nasihat menanam pohon.
Saya hanya ingin menceritakan gambaran saya tentang bang Tere yang baru pertama kali saya lihat dengan mata kepala saya sendiri. Seorang penulis Fiksi terhebat yang dimiliki bangsa ini dengan penampilan paling Non Fiksi. Itulah Tere Liye, dengan penampilan yang apa adanya, bahasa yang blak-blakan khas orang Sumatra. Jauh berbeda dengan novel-novel galau dan baper yang ia ciptakan. Dan mau tau satu hal, sepertinya saya mulai ketagihan baca novel-novel beliau, aarrgghh… amankan dompeeeettt!🤣
~~~
#latepost
~~~
#JumpaPenulis
#TereLiye
#penulisfiksi
#HeNee
#KopiWriteIndonesia

  • Share:

You Might Also Like

2 komentar

  1. Penulis favorit saya banget, bang Tere Liye, dulu waktu baru baca novelnya pemilik nama Tere Liye ini adalah perempuan ah ternyata laki2. Udah banyak baca novel2nya tp belum pernah ketemu orangnya... padahal pengen banget ya klu dapet kesempatan kayak mbak Ikut Seminar Kepenulisannya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama mba, tapi saya lihat orangnya dulu baru baca bukunya hahaha telat banget yak? Padahal karya beliau ini keren2! Orangnya juga keren banget mba, setiap kalimat yang keluar dari mulutnya, nampol abis! ah, jadi kangeen! #eh :D

      Hapus