Satu Tahun Bersamamu

By Unknown - Maret 14, 2018

-Pada akhirnya kita harus kembali pada niat awal-

Kata-kata di atas membuat saya menarik nafas panjang. Mulai mengingat-ingat lagi niat awal saya berada pada dunia literasi dan ingin sekali membentuk komunitas. Teringat dulu saat saya “merengek-rengek” kepada beberapa teman untuk mau bergabung bersama dalam membentuk sebuah komunitas menulis. Padahal belum tau bentuknya akan seperti apa. 

Merangkak dari awal bukan hal yang mudah, dari grup masih di private sampe sekarang sudah di public. Dari yang dulu member hanya puluhan, sekarang sudah ribuan. Syukur Alhamdulillah. Masih banyak PR menunggu.

Seorang bijak berkata, “Meraih itu gampang, tapi mempertahankan itu yang susah.” Betul sekali! Dalam perjalanan komunitas ini saya sudah kehilangan dua teman baik. Mungkin, hingga saat ini mereka membenci saya. Ah, semoga ini hanya suudzonnya saya saja. Semoga selanjutnya saya tidak kehilangan teman baik lagi, bagaimanapun caranya saya akan coba mempertahankan. Hingga akhirnya mungkin saya yang harus mundur (mengalah)

Dalam sebuah komunitas, mustahil rasanya jika kita akan selalu seia sekata atau seiring sejalan dengan sesama pengurus. Dalam hal ini kedewasaan dan kestabilan emosi sangat berperan penting, meski saya sering kebobolan, heuu… maafkeun.

Kembali ke niat awal, bahwa komunitas ini didirikan untuk sebanyak-banyaknya menebar manfaat dan kebaikan. Memberi wadah untuk teman-teman penulis ataupun teman-teman yang ingin belajar menulis. Bahkan hanya untuk penikmat karya sastra, tapi kadang-kadang  ada juga yang nyasar mau jualan kopi, yang terakhir itu menjadi hiburan tersendiri bagi kami para pengurus.

Hari demi hari berganti, bulan demi bulan berlalu… tak terasa sebentar lagi akan mencipta angka satu.  Yah, satu tahun!  Angka 1, angka yang tegak berdiri, lurus, awal, atau pembuka. Angka 2,3,4 dan seterusnya tidak akan dimulai tanpa angka 1. Alhamdulillah, sampai juga pada angka 1 tahun, semoga terus bertambah dan bertambah.

Konsentrasi penuh untuk mengembangkan komunitas ini terkadang melupakan kepentingan diri saya sendiri. Ketika teman-teman sudah menebar prestasi di mana-mana, saya merasa jalan di tempat. Sampai akhirnya ada yang mengingatkan, “Bahagiakan dirimu dulu, baru kau benar-benar bisa membahagiakan orang lain.” Awalnya saya sempat membantah, “Bukankah dengan membahagiakan atau melihat orang lain bahagia kita akan ikut bahagia?” Dia malah balik bertanya, “Yakin sudah bahagia? Yakin, itu benar-benar yang namanya bahagia?” Saya hanya memilih untuk tersenyum, padahal sedang berpikir keras.

Entahlah, membahagiakan orang lain itu perlu tapi lebih perlu lagi membahagiakan diri sendiri, sepertinya, hehehe … mungkin dalam artian berilah hak kepada hatimu, pada dirimu sendiri. Bahwa segala sendi di dalam tubuh kita juga punya hak, seluruh jiwa dan raga kita juga punya hak. Punya hak untuk istirahat, untuk tertawa, untuk bahagia dan sebagainya. Tanpa mengabaikan kebahagiaan orang-orang terkasih di sekitar kita tentunya. Sepakat?

Kembali pada angka 1. Tepatnya 1 tahun, usia komunitas yang kami dirikan dengan niat untuk menebar manfaat. Komunitas itu kami beri nama “Kopi Write Indonesia.” Entah kenapa nama itu yg terpilih, dari sekian banyak alternatif nama yang kami kumpulkan. Dulu, hanya terpikir bahwa temannya para penulis itu yah kopi, apalagi kalau sedang dikejar dead line. Heu!

Sejujurnya, kami juga lupa kapan tepatnya komunitas ini berdiri. Saya hanya ingat, grup kecil yang terdiri dari 4 orang sejak awal Maret sudah intens menggodok konsep untuk komunitas ini. Saya, si Capt, mba Dwi dan Mba Mala. Grup kecil yang dibentuk dengan harap-harap cemas karena salah satu orang paling ganteng di grup itu sempat kekeuh tidak mau terlibat. Alhamdulilah dengan segala bujuk rayu akhirnya beliau mau juga. Meski pada akhirnya beliau harus undur diri, segala doa terbaik untukmu! Always miss you! (jujur dari hati)

Kembali ke grup kecil tempat awal mula KWI berasal. Setelah konsep sudah matang barulah saya menghubungi beberapa sahabat untuk bergabung. Alhamdulillah satu persatu bersedia diajak bergabung, meski awalnya semua bilang, “Tapi, saya ga bisa janji untuk selalu aktif yah mba.” Saya jawab, “iye, yang penting mau aja dulu (maksa)” Alhamdulillah total seluruhnya dulu ada 9 orang.

Tepat seperti yang mereka bilang, “Tidak bisa selalu aktif.” Memang ada yang tidak pernah muncul sama sekali dengan alasan sibuk dengan puluhan grup yang dia handle. Luaarrr biasa! Klo di colek lewat chat pri baru bisa hadir. Ada juga yang cuma intip-intip, trus komennya nanti pas tengah malem, hihihi. Ada juga yang selalu mantengin tapi giliran ditanya pendapat atau saran malah balik nanya, “Gimana tadi maksudnya?” Hahaha …

Yah, begitulah suka duka di dalam sebuah komunitas, memang terkadang yang aktif yah 4L, Lu Lagi Lu Lagi! Tapi syukurnya jika kita ada event semua mau terlibat. Apa lagi jika urusan sponsor hadiah, Alhamdulillah semua pengurus ini memang punya hati yang dermawan. Semua dana, pulsa, buku dll untuk hadiah sebuah event baik online maupun offline itu benar-benar menggunakan dana pribadi. Tepuk tangan untuk kita semua! Doakan kami selalu punya rezeki yang berlimpah yah teman.

Kembali pada tanggal KWI berdiri, akhirnya karena semua personil lengkap terkumpul sekitar akhir bulan Maret 2017, maka kami tetapkan Milad KWI yang pertama jatuh pada tanggal 25 Maret 2017. Masih baby, baru belajar berjalan dan tumbuh gigi. Itulah ibarat KWI sekarang ini. Masih butuh banyak sekali bimbingan juga nasihat dan asupan gizi yang baik. Agar tumbuh sehat dan cerdas, disukai semua orang dan mempunyai karakter yang bagus. Sebab itulah kami butuh saran dan masukan dari sahabat-sahabat semua agar kami menjadi lebih baik lagi.

Dulu, ketika awal-awal mengkonsep KWI kami melontarkan mimpi-mimpi tentang komunitas ini. Dari buku antologi, buku solo, kelas berbayar, penerbit sendiri, jadi pemateri terus diundang kemana-mana, dan masih banyak lagi. Alhamdulillah, satu persatu mimpi itu mulai terwujud. Tak jarang kami merasa amazing karena semua candaan yang diawali dengan, “eaaa…eaaa” lalu diakhiri dengan “Aamiin” ternyata diijabah Allah yang Maha Agung. Jadi pelajaran penting buat kami, bahwa apapun bentuknya, kata-kata, mimpi bahkan becandaan yang sepertinya ga penting, itu adalah doa yang bisa saja terwujud kapanpun! Jadi, mulai sekarang ngomong yang baik-baik aja yah, biar hasilnya juga baik.

Sampai akhirnya, kami memilih mas Daman sebagai presiden KWI. Mas yang satu ini sebenernya cocok di panggil adik, karena usianya paling mudaaaa diantara yang lain. Eits, jangan salah! Meskipun muda dia itu mengayomi sekali dan bisa diandalkan. Tak jarang dia juga menjadi penengah jika terjadi “diskusi hangat” dan ternyata calon bapak yang satu ini punya selera humor yang bagus. Jangan menyerah menghadapi kami para emak-emak rempong yang keceh ini yah mas, hehehe.

Untuk memperingati Milad Kopi Write Indonesia yang pertama ini, mungkin tidak akan ada euphoria. Kami hanya berharap ribuan doa mengalir untuk komunitas ini semoga menjadi lebih baik. Semoga kami tetap bisa istiqomah menebar manfaat, menjadi komunitas yang bisa memenuhi berbagai kebutuhan semua membernya.

Akhir kata, kami ucapkan terimakasih untuk kalian semua member keceh yang setia. Mohon maaf atas segala kekurangan kami yah. Semoga suatu saat kita bisa berkumpul saling menebar manfaat dan menebar kebaikan. Mari bergerak bersama, berkembang bersama, sukses bersama!

Eh iya, ngomong-ngomong soal berkumpul, ketemuan, kopi darat atau apalah namanya. Kami akan mengadakan acara offline sambil jalan-jalan, insyaa Allah. Ikutan yuukk! Pantengin terus kabar berita dari kita yah! #mengandungumpan

Baiklah, saya cukupkan dulu monolog kali ini. Sekali lagi terima kasih banyak ghaess… tanpa kalian kami bukanlah siapa-siapa. #eaaa
Sukses untuk kita semua!
Salam Literasi!

Heni Lestari
Co-Founder Kopi Write Indonesia

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar