Menemukan Titik Terang, Menemukan Jalan Pulang

By Unknown - Juli 01, 2018

Assalamualaikum,
Haloo semua, lama ga nulis di blog ini. Sumpah kangen berat! Padahal buanyak banget ide cerita yang berseliweran di kepala. Saking banyaknya bingung mau nulis yang mana. Heu … ini lah balada emak penulis super rempong, pulang mudik ditinggal asisten, anak-anak masih libur, emak sudah mulai ngantor. Yang ada setiap pagi kaki berat banget ninggalin anak-anak berangkat kerja. Eh, malah curcol.

Ngomongin soal mudik lebaran kemarin, meninggalkan kenangan indah akan keseruan kumpul keluarga besar, heboh dari anak-anak sampai emaknya. Selain meninggalkan kenangan indah, mudik kemarin juga meninggalkan pegal - pegal di sekujur tubuh, juga sekujur ATM (keseringan digesek) hihihi.
Untuk urusan pegal – pegal saya tidak khawatir lagi, karena sudah lama punya langganan pijat dan bekam kering di dekat rumah. Jadi, kalau butuh tinggal sms, dan mereka pun datang. Alhamdulillah cocok banget.

Sebenarnya sudah lama juga ingin menuliskan kisah tentang ibu pijat langganan saya ini. Karena cukup unik juga cara mereka kerja. Tapi baru kali ini saya sempatkan, karena baru saja mendengarkan kisah yang sangat luar biasa dari mereka. Malam ini saya dibekam sambil berkaca-kaca bukan karena kesakitan tapi karena mendengarkan cerita pilu tentang kehidupan masa lalu mereka.

 Sejak pertama mereka datang ke rumah saya, saya sudah simpati dengan mereka. Kenal mereka satu tahun yang lalu dari asisten rumah tangga saya yang lama. Awalnya sih ragu karena belum pernah di bekam tapi karena badan sudah remuk redam akhirnya saya coba saja. Akhirnya sampai hari ini saya masih menggunakan jasa mereka.

Mereka adalah seorang ibu dan anak perempuannya. Si Ibu sebenarnya sudah cukup tua, bisa dibilang sudah nenek-nenek tapi masih gagah, pijatannya pun masih cukup kuat. Dan anaknya kurang lebih berusia 40 tahunan. Dulu saya pikir, si anak hanya mengantar ibunya saja atau sebaliknya. Ternyata saya salah, dua-duanya “ngerjain” badan saya. Saya hanya bisa pasrah “dikeroyok” dua wanita perkasa ini hihihi. Apalagi setelah saya merasa “keroyokan” mereka enak, saya bukan hanya pasrah tapi rela hehehe ngomongin apa sih?

Ternyata kerjasama ibu dan anak ini sangat baik dan sistematis (aseekk) Si Ibu yang memijat dan anaknya yang membekam terkadang sebaliknya. Tangan mereka berdua juga adem banget di badan, saya pun nyaman. Jadi tidak ada kekhawatiran salah pijat atau apapun namanya. Maklum saya sempat parno dengan tukang pijat karena pernah terjadi pembengkakan otot pinggul akibat pijatan yang terlalu keras, sehingga saya harus dilarikan ke rumah sakit karena tidak bisa rukuk ataupun duduk dengan sempurna. Rasanya sakit luar biasa. Tapi sudahlah, lupakan saja, kalau ingat masa-masa itu rasa ngilunya seakan datang lagi, heu.

Luka dan Hijrah

pic.by.pixabay


Biasanya sambil di bekam saya sempatkan untuk ngobrol dan bertanya seputar pengalaman memijat. Ternyata ibu ini bisa dibilang terapis international, yah meskipun hanya seputaran Singapore dan Malaysia tetap saja itu sebuah prestasi yang tidak biasa. Bahkan dulu ketika masih gagah-gagahnya si ibu sering dipanggil untuk memijat oleh keluarga kerajaan di Malaysia. 

Saya tidak pernah menanyakan hal-hal pribadi kepada mereka, seperti, suaminya kemana? Kenapa sampai merantau dari Jawa ke Batam dan menjadi tukang pijat. Meskipun ingin sekali tetapi saya tahan, khawatir membuka kenangan lama dan membuat suasana jadi tidak nyaman.

Tapi, akhirnya sedikit demi sedikit mereka justru bercerita sendiri. Entahlah, mungkin karena merasa nyaman juga dengan saya yang tidak terlalu “kepo” ini. Atau justru memang ini adalah jalan Tuhan agar saya juga mengambil pelajaran dari orang yang tidak disangka-sangka. 

Saya yakin, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Curhatan mereka juga bukan hanya sekedar curhatan biasa tapi sebuah pelajaran yang mungkin Allah ingin saya pelajari sendiri langsung dari sumbernya. Saya merasa tertampar mendengar anaknya bercerita tentang masa lalunya yang pilu. Yang selama ini saya pikir hanya ada disinetron ga jelas di televisi swasta.

Awalnya malam ini saya hanya meminta mereka datang untuk bekam dan pijat seperti biasa, tapi saya malah merasa mendapatkan siraman rohani, adeeem banget. Biasanya meraka datang berdua, kali ini datang bertiga dengan seorang anak perempuan berumur sekitar 9 tahun. Saat itu saya tidak menanyakan ini anak siapa, saya hanya langsung tergerak mengambilkan anak itu sepatu roda punya anak sulung saya karena saya melihat mata anak ini tidak lepas dari anak bungsu saya yang asik putar-putar sendiri dengan sepatu roda di halaman depan rumah. Anak itu pun menerima sepatu roda dengan senang hati. Kami pun beranjak ke kamar meninggalkannya bersama Si Bungsu yang langsung welcome karena mendapatkan teman bermain. 

Ketika saya sedang menyiapkan kasur pijat dan bersiap-siap menyerahkan jiwa dan raga saya untuk di “keroyok” tiba-tiba Si Mbak, anaknya Si Ibu ini langsung bercerita dengan wajah dan nada bicara yang semringah. Dia menceritakan bahwa anak perempuan yang dibawa tadi adalah anaknya yang sudah 8 tahun tidak berjumpa. Dulu, ketika umurnya masih delapan bulan anak ini diambil paksa oleh suaminya, sedangkan dia diusir dari rumah. Antara shock dan sedih bercampur aduk dengan sakit hati gegara suami mau menikah lagi, entah bagaimana ceritanya Si Mbak ini bahkan sempat tinggal di kandang ayam, demi tetap bisa melihat anaknya.

Singkat cerita Si Mbak ini bangkit lagi dan hijrah ke Batam mengikuti jejak ibunya. Delapan tahun menjanda, delapan tahun tidak bertemu dengan anaknya, delapan tahun juga memendam perasaan yang bercampur aduk. Satu hal yang dia tau bahwa selama ini suaminya sudah dua kali menikah lagi dan tidak satupun dari istri mudanya berlaku baik terhadap anak kandungnya. Tapi hebatnya selama delapan tahun juga Si Mbak ini tidak berputus asa. Selalu mendoakan yang terbaik untuk anak dan mantan suaminya. Karena dia berpikir, kalau suaminya menderita anaknya juga pasti akan menderita. Jadi intinya Si Mbak ini sudah benar-benar ikhlas dan memaafkan perlakukan buruk suaminya, yang penting mereka bahagia. 

Hebat yah! Oh iya, satu lagi. Ternyata selama delapan tahun ini Si Mbak tidak pernah berputus asa dalam  berdoa, mau tau doanya apa?  “Ya Allah, jika memang dia (suami) terbaik untukku, kembalikanlah dia padaku.” 
What?! Sudah disakiti sedemikian hebat ternyata Si Mbak masih menyimpan harap suaminya akan kembali lagi. Saya langsung speechless, badan yang tadinya pegal luar biasa, pijatan yang tadi masih saya nikmati kini rasanya hambar. Saya sudah tidak peduli lagi dengan bekam dan yang lainnya. Saya sibuk menata detak jantung dan air muka agar tetap santai. “Wolesss, ini kisah orang lain ngapain situ yang emosi.” Batin saya.

Menemukan Titik Terang, Menemukan Jalan Pulang

pic.from @dhuhalover


Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya, setelah delapan tahun semua doa Si Mbak ini terkabulkan. Beberapa hari sebelum lebaran, sang mantan suami menelpon, mengajak rujuk dan memintanya untuk datang ke Jawa guna menjemput anak perempuannya yang selama ini tidak pernah ia jumpai. Suaminya meminta waktu tiga bulan untuk mengurus perceraian dengan istri mudanya dan lain sebagainya. Tanpa pikir panjang Si Mbak langsung bersedia, dengan bismillah dia menyambut baik semua permintaan mantan suaminya. Dengan bismillah dia bersedia merajut lagi mimpi-mimpi yang pernah dihempas badai kehidupan.

Sekali lagi saya speechless, melongo, dan tentu saja pastinya saya ikut bahagia untuk Si Mbak ini. Dan tidak terbayangkan betapa bahagia hatinya.
Akhirnya saya beranikan diri untuk bertanya, “Mbak, apa rahasianya kok mba tidak dendam sedikitpun dengan mantan suami mbak?”
“Al Ikhlas mba, saya mengamalkan dan benar-benar belajar dari surat itu. Karena itu satu-satunya surat pendek yang gampang dihapal. Dan sesuai dengan nama suratnya mba, saya ingin ikhlas.” Jawabnya masih dengan muka yang semringah sambil memijat jari-jemari saya.

Plakkk!! Kali ini saya benar-benar merasa ditampar dan maluuuuu sekali dengan diri saya sendiri. Gaya-gayaan khatam quran tapi tak satupun nyantol di kehidupan saya sehari-hari. Tidak satupun saya pelajari dan amalkan dengan sungguh-sungguh. Ampun yaa Allah.

Ketika saya merasa baik, merasa sudah taat beribadah. Ternyata saya salah, ternyata saya belum apa-apa dalam hal ketaatan. Masih harus terus belajar. Terus berjuang dan berbekal. 
Kini saya sadari ternyata kita hanyalah insan yang sedang mencari jalan pulang terbaik, yang sering dihadapkan pada persimpangan yang membingungkan bahkan menyesatkan.

Jadi teringat tulisan yang sangat indah dari ustadzah Irena Handono yang berjudul Mencari Jalan Pulang.

Mencari Jalan Pulang

Kita bukan penduduk bumi…
Kita adalah penduduk surga…
Kita tidak berasal dari bumi…
Tapi kita berasal dari surga.
Maka carilah bekal untuk kembali ke rumah…
Kembali ke kampung halaman…
Dunia bukan rumah kita…
Maka jangan cari kesenangan dunia.
Kita hanya pejalan kaki dalam perjalanan kembali ke rumah-Nya.
Bukankah mereka yang sedang dalam perjalanan pulang selalu mengingat rumahnya dan mereka mencari buah tangan untuk kekasih hatinya yang menunggu di rumah?
Lantas….
Apa yang kita bawa untuk penghuni rumah kita, Rabb yang mulia?
DIA hanya meminta amal sholeh dan keimanan, serta rasa rindu padaNya yang menanti di rumah.
Begitu beratkah memenuhi harapanNya?
Kita tidak berasal dari bumi…
Kita adalah penduduk surga…
Rumah kita jauh lebih indah di sana.
Kenikmatannya tiada terlukiskan…
Dihuni oleh orang-orang yang mencintai kita…
Serta tetangga dan kerabat yang menyejukkan hati.
Mereka rindu kehadiran kita…
Setiap saat menatap menanti kedatangan kita…
Mereka menanti kabar baik dari Malaikat Izrail…
Kapan keluarga mereka akan pulang?
Ikutilah peta (Al-Quran) yang Allah titipkan sebagai pedoman perjalanan…
Jangan sampai salah arah dan berbelok ke rumahnya Iblis Laknatullah yaitu jalan ke Neraka Jahannam.
Kita bukan penduduk bumi…
Kita penduduk surga..
Bumi hanyalah dalam perjalanan…
Kembalilah ke rumah.


Bisa jadi sepenggal kisah haru dari Si Mbak pijat ini merupakan jawaban atas ketidak sabaran saya dalam menanti terkabulnya doa dan penantian saya akan jawaban dari setiap tanya yang berulang.

Untuk Ibu pijat dan Si Mbak, kalian bukan hanya terapis hebat tapi inspirator hebat dan wanita-wanita tangguh yang pernah saya jumpai. Selamat yah mbak, akhirnya suami mbak menemukan jalan pulang lagi. Semoga berkah yah Mbak.

Selalu ada alasan untuk setiap kejadian. Kita bukanlah orang-orang yang kebetulan dipertemukan. Kisah ini juga bukan hanya kebetulan semata singgah di layar laptop atau gawai kalian. Selalu ada alasan. Selalu ada hikmahnya. 

Yakinlah, setiap tanya pasti ada jawabnya
Setiap resah akan reda
Bersabarlah
Ikhlas.

Mohon maaf lahir batin, mohon maaf apabila ada kata yang kurang berkenan. Kesempurnaan hanya milik Allah semata.

Salam hangat dari Batam.
HeNee yang Bahagia.


pic.by.pixabay

  • Share:

You Might Also Like

19 komentar

  1. Cerita si Mbak seperti novel. Btw...dibekam itu sakit enggak? Saya blm pernah...Takut...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba persis sinetron2 gitu heheh. Klo bekam kering ga sakit mba. Tapi bekam basah saya belum pernah nyobain sih jd ga tau sakit atau enggak 😁

      Hapus
  2. Tak peduli dari siapa, jika sebuah kisah bisa menginspirasi kita, sungguh bernilai maknanya.
    Terima kasih sudah membagikan kisah ini Mbak Heni. Semoga si Ibu itu enggak disakiti lagi sama suaminya.
    Btw, saya belum pernah coba bekam.. Enak ya? 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin mba.
      Bekam itu enak mba, awalnya agak perih kayak dicubit tapi lama lama enak hehehe

      Hapus
  3. Kalau kisah mbak pijit dibikin novel terus ditambah diksi-diksi yang menarik, pasti laku de..
    Saya sih cuma bisanya ngomporin doang. Belum punya novel hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. huwaaa saya angkat tangan klo novel mba hahahah... hayuuk keroyokan :)

      Hapus
  4. Masya Allah, kisah kaya gitu bener ada ya mam. Semoga keluarga si ibu sakinah, mawadah, warahmah. Btw udah enakeun badanya mam?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mam, aku juga antara percaya ga percaya tapi si mbaknya santai aja cerita kayak ga terjadi apa-apa ya Allah kuat banget yaah.

      Alhamdulillah sudah mendingan mam, tinggal batuknya aja nih menyiksa :)

      Hapus
  5. Habis membayangkan nikmatnya tubuh ini jika "dikeroyok" oleh wanita-wanita perkasa. Tiba-tiba saya jadi pilu dengan kisah perempuan yang nampaknya perkasa itu. Semoga Allah mendengar semua doanya. Amiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin mba, semoga yang terbaik untuk si mbaknya yah. thanks yo mba sudah mampir
      :)

      Hapus
    2. Jadi keingetan, bulan ini belum dibekam hihihi
      Ternyata sambil menyelam, minum air ya....dipijat, sambil mendengarkan pengalaman yang berharga

      Hapus
    3. yeaayy ada teman suka dibekam juga hehehe

      Hapus
  6. Cepat sembuh ya mbak! Semoga kisah yang mbak bagi, membuat kita semakin bersyukur dan lebih

    BalasHapus
  7. Inspiratif bangat kisahnya yaa...

    Intinya mah setiap kisah mempunyai pengalaman dan pembelajaran yang harus dipetik

    BalasHapus
  8. Luar biasa, mendapatkan pelajaran dan hikmah dan pengalaman hidup orang lain. Salam Bekam

    BalasHapus
  9. amazing ... keren banget deh kakak heni ini ... bisa menemukan titik terang nya

    aku masih meraba raba untuk dapat mendapatkan titik terang yang masih aku cari sampai sekarang

    kapan ya bisa jumpa

    hiks hiks hiks

    BalasHapus
  10. Aku Kira baca novel rupanya kisah hidup ya

    BalasHapus