TELOK ABANG, KHAS 17-an di PALEMBANG

By HeNee - Agustus 15, 2018
17 Agustus 2018 ini, Negara kita Indonesia tercinta genap berusia 73 tahun, wah sudah cukup tua juga, yah. Apa sih, yang paling kita ingat di hari kemerdekaan ini selain upacara bendera?
Yah, tentu saja aneka perlombaan yang khas seperti, panjat pinang, makan kelereng eh, makan kerupuk, ding. Trus, masih banyak lagi permainan khas yang memang hanya bisa kita jumpai pada saat 17 Agustus saja.

Tapi, zaman saya kecil dulu (sebenernya sampe sekarang, sih.) waktu tinggal di Palembang, satu hal yang paling saya ingat ketika momen 17-an adalah TELOK ABANG.

Dulu, saya selalu ngiler, mupeng, apalah namanya, setiap melihat deretan telok abang berjejer di pinggir jalan, hampir di setiap sudut kota Palembang. Ngiler, ingiiin sekali beli, tapi apalah daya, zaman saya kecil dulu kami hidup pas-pasan, sehingga untuk membeli satu telok abang pun rasanya Ibu saya mikir berulang kali. Saya ga tau, apakah benar-benar karena hidup pas-pasan atau karena Ibu saya berpikir ga terlalu ada gunanya, atau karena saya ga disayang huhuhu makanya ga dibeliin, dan anehnya saya pun tidak pernah memaksa untuk minta dibelikan. Meskipun hati rasanya menjerit, “teloooookkk abaaaaaang!!”

Hahaha, ini seriyeus ghaes aku ghak lebhay, hiks.


Apa sih, Telok Abang itu?

Telok Abang itu sebuah mainan yang terbuat dari bahan gabus atau kayu dibentuk menjadi pesawat terbang dan kapal laut, dulu sih bentuknya itu saja, ga tau deh sekarang. Di tengah badan pesawat atau kapal ditancapkanlah telur (telok) yang diberi pewarna merah (abang).
Telur itu ditancapkan menggunakan lidi dan di atas lidi itu biasanya diberi bendera merah putih berukuran kecil.

Telok Abang ini, digantung menggunakan tali dan sebatang kayu. Badan pesawat atau kapal laut ini biasanya di cat warna warni agar semakin menarik dan meriah.

Jadi sebenarnya Telok Abang itu adalah Telur yang diberi warna Merah.

Sejarah Singkat Telok Abang

Asal mula Telok Abang ini dimulai sejak peringatan ulang tahun Ratu Belanda Wilhelmina II saat Indonesia masih dijajah Belanda. Untuk memeriahkannya, masyarakat Kota Palembang membuat telur yang di cat merah. Awalnya telok abang ini menggunakan telur itik, namun kini diganti dengan telur ayam.

Sejak Palembang resmi lepas dari era penjajahan Belanda, tradisi telok abang ini masih tetap diteruskan hingga kini.

Awalnya telok abang diberi pewarna kesumbo (tinta yang digunakan untuk mengecap karung beras dan gula) Karena bahan itu tidak aman untuk di konsumsi, maka saat ini para penjual mengganti pewarna kesumbo dengan pewarna makanan atau yang biasa orang Palembang kenal dengan nama abang kue.

Saya ingat, dulu pernah dibelikan Si Mbah (kakek) saya sebuah telok abang, tapi yang tidak ada telurnya, mungkin karena Si Mbah masih berpikir pewarna merah yang digunakan tidak aman di konsumsi. Selain itu, warna merah dari telok abang itu kalau sudah menempel di jari tangan susah untuk hilang, karena saya dan kakak-kakak masih kecil biasanya suka seenaknya lap di baju, gorden dan taplak meja, hahaha. Dari pada semua jadi repot, jadinya beli yang tidak pakai telur saja, selain itu harganya pasti lebih murah. (prinsip ekonomi)

Si Telok Abang ini, di ikat sama Si Mbah di tiang teras rumah, diikat agak tinggi, jadi kita menikmati indahnya telok abang dari bawah sambil ngunyah telur rebus masakan Ibu. Hmmm… dulu ini pemandangan indah bagi saya. Dan tentu saja, telok abangnya awet, tidak cepat rusak, karena cuma dipandang-pandang saja dari kejauhan.  #ngenes

Pernah, beberapa tahun lalu, ketika pulang ke Palembang pas di bulan Agustus saya melihat deretan telok abang, dan tentu saja saya langsung membeli yang paling besar dan bagus (dendam nih ceritanya) dengan harapan anak saya loncat kegirangan, exciting!

Tapi ekspektasi memang sering tidak sejalan dengan realita, ketika sampai di rumah dan langsung menunjukkan telok abang ini ke anak saya, dia hanya bertanya,

“Apaan nih, Bund?” Datar.
“Ini TELOK ABANG, Kak!” Saya SEMANGAT.
“Telok Abang? Oh…,” heniiing…

  krik… krik…krik…

“Ini hits lo kak, zaman bunda kecil dulu!” Saya masih semangat.
“Gimana cara mainnya, Bund?” mulai tertarik
“Hmm… gimana, yah, ya dilihat-lihat aja atau di gantung. Oh iya, ada telurnya loh, Kak.” Mulai putus asa.
“Telur apa tuh, Bund. Kok warnanya merah?” Penasaran atau malah geleuh.
“Telur rebus biasa, kak, tapi diberi pewarna merah.” Saya copot telurnya, sodorin ke dia, eh dia malah geleng-geleng.
Kasian sama saya kali yah, dia langsung mengelus-elus telok abang yang super besar itu dan basa basi, “bagus yah, Bund.”
“Iya, udah sana, kakak mandi, gih.” Saya usir aja sekalian.

Yah, itulah penggalan dialog antara ekspektasi vs realita.

Hmmm... begitulah, seiring dengan perkembangan zaman, mainan-mainan tradisional seperti ini mulai tersisihkan. Anak-anak pun lebih tertarik denga permainan dunia maya. Saya juga sedih ketika seorang teman berkata bahwa sudah jarang melihat telok abang ketika 17-an di Palembang.

Tapi, ada juga yang bilang, banyak di jual di daerah Jakabaring arah ke GOR Jakabaring yang akan digunakan untuk Asian Games 2018 ini.

Wah, syukurlah kalau memang masih banyak yang jual. Saya berharap masih banyak orang tua yang mengenalkan permainan tradisional ke pada anak-anaknya.

Saya juga berharap telok abang ini tetap ada sampai kapanpun, karena ini adalah peninggalan penjajahan Belanda. Agar kita juga selalu ingat, bahwa kita pernah di jajah, ditindas! Namun, saat ini kita sudah merdeka selama 73 tahun.
Semoga kita benar-benar merdeka dalam segala hal,
Merdeka dari kemiskinan, kelaparan.
Merdeka dari berita-berita hoax yang mengadu domba, memecah belah, dan memperkeruh keadaan.

Untuk saya pribadi, semoga saya benar-benar merdeka untuk menikmati gorengan dan jeroan tanpa harus memikirkan lemak dan kolestrol jahat di dalam tubuh. Aamiin #eh

No, no, no, sebenarnya saya berharap sekali bisa merdeka dari perasaan khawatir akan masa depan anak-anak saya, saya ingin merdeka dari perasaan takut; bisakah saya membimbing mereka menjadi manusia sukses baik di dunia maupun di akhirat, bisakah mereka menjadi manusia yang berguna dan selalu menebar kebaikan di Bumi yang sudah renta ini dan di Dunia yang mulai “gila” ini?

Saya hanya bisa optimis, dan terus berdoa. 
Mari Bund, Mak, kita bergandengan tangan saling menguatkan, tak perduli apakah emak fullmom atau ibu bekerja, tak peduli emak melahirkan secara normal atau operasi, tak peduli, apakah emak pecinta real food atau junk food dan saya tak pernah peduli apakah emak memberi anak emak ASI eksklusif atau dibantu sufor, saya benar-benar tidak peduli, yang saya tau tidak ada seorang ibu pun yang tidak menginginkan hal terbaik untuk anaknya dan keluarganya. 

Dan yang saya tau, se-strong apapun kita, tetaplah kita hanya manusia biasa yang masih membutuhkan pertolongan orang lain. Sehebat apapun kita, tetaplah kita seonggok daging hina yang berlumur dosa. Jadi, apa yang harus kita sombongkan? Apa yang harus kita perdebatkan?

Mari bergenggaman Mom, Bund, Mak, Bu, Mbok… saling menguatkan, saling mendoakan, merdekakan hati kita dari nyinyiran sesama emak-emak, karena seharusnya kita satu suara, "Turunkan harga Sembako!" #eh, "Hidup Emak!"

Dan, Mak, apa impian terbesar Emak di hari kemerdekaan ini?



Selamat Hari Merdeka!!






**terima kasih, sudah singgah dan meninggalkan jejak**

  • Share:

You Might Also Like

23 komentar

  1. Impian saya, Indonesia enggak banyak drama..hahaha
    Dulu temenan sama itu, eh jelang pilihan ganti teman, jadian sama si ini. Piye iki?

    Yang penting emak-emak rapatkan barisan dan saling menyemangati!! Yuks, semangat kita!!

    BalasHapus
  2. Impian saya bisa menulis setiap hari. Karena menurutku penulis itu orang yang merdeka. Mau nulis dengan topik apapun masuknya bisa dari sisi yang kita kehenfaki, hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama mbaaa, aku juga blm bis nulis tiap hari, hiks.

      Hapus
  3. Gak muluk sih ingin jadi lebih produktif aja dan semakin semangat menebar kebaikan lewat tulisan di berbagai macam media. Semoga setelah menikah ttp bisa produktif nulis juga. Aamiin hehe.

    BalasHapus
  4. Hmm, impian terbesar? Setidaknya bisa menjadi orang yang bermanfaat mam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyes, mam. Paling tidak di lingkungan kecil kita dulu yah, baru yang lebih besar.

      Hapus
  5. Impian terbesar aku....
    Hmm, bisa membebaskan hati dan pikiran dari perang abadi. Cieh...

    BalasHapus
  6. ih, lucu lah telok abangnya..mau tp yang ga pake telor..*ini dudh kyk beli apaan..haha..
    Btw, impian terbesar aku adalah bisa enjoy dan maksimal dalam mengasuh anak(-anak)ku.. amiinn..

    BalasHapus
  7. Hehehe anak2 jaman now maenannya pada digital, disodorin beginian dia bingung hehe. Tp gpp mbak, permainan kayak gini harus dikenalin memang, biar terwariskan. Dari pada enggak sama sekali...

    BalasHapus
  8. Asli kak aku pertama liat judul kirain itu nama makanan wkwk *anaknya laperan! Tapi serius unik banget yahhh, jadi pengen nyobain main jugaaa *ga sadar umur wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi, pada dasarnya emang makanan mba, telok abang = telor merah

      Hapus
  9. Saya pikir telok abang itu telor merah hihihi gak ngertinya gabus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenernya iya mba memang artinya telor merah, cuma orang Palembang nyebut mainannya juga telok abang karen asudah kebiasaan kali yaa

      Hapus
  10. bener mbak wiwid widiannarti, aku pikir juga telur merah lho telok abang

    tapi ini sejarah yang keren banget ... kalau kita bicara tentang pengalaman masa kecil

    karena setiap daerah, apalagi aku yang kecil di jakarta mempunyai ingatan tentang masa kecil perayaan hari kemerdekaan

    BalasHapus
  11. bener mbak wiwid widiannarti, aku pikir juga telur merah lho telok abang

    tapi ini sejarah yang keren banget ... kalau kita bicara tentang pengalaman masa kecil

    karena setiap daerah, apalagi aku yang kecil di jakarta mempunyai ingatan tentang masa kecil perayaan hari kemerdekaan

    BalasHapus
  12. Kupikir telok abang itu semacam kerak telor mba wakakakakakkkk. Emang yah 17 an jaman generasinkita paing heboh, makin ke sini asa kumahaa gitu ya. Btw MERDEKAAAA!

    BalasHapus