ESQ PARENTING - BELAJAR DARI MASA KECIL MICHAEL JACKSON

By HeNee - Agustus 05, 2019
pic by. pinterest

“Bentakannya begitu menyakitkan, setengah telingaku tuli, dan aku selalu menahan mual bila mendengar teriakannya yang memarahiku dan menunjuk-nunjuk mukaku dengan tuduhan menyakitkan dan hinaan yang merendahkan. Pendek kata, menurut ayah dan ibuku, juga saudara-saudaraku, aku adalah anak yang paling buruk, wajahku hitam, dan tidak ada satupun yang menarik dari diriku. Aku selalu dihina seakan hanya aku satu-satunya anak berkulit hitam yang memiliki wajah buruk rupa dengan hidung pesek bulat yang lahir didunia ini,” isak Michael Jackson (MJ) dalam sebuah acara reality show di sebuah televisi Amerika, menggambarkan bagaimana perasaannya yang begitu tertekan karena dirinya selalu selalu diejek dan dihina ayahnya , sebagai si hitam bermulut lebar, berambut kusut dan berhidung pesek. (sumber : www.eramuslim.com)

Have you seen my Childhood?
I'm searching for the world that I come from
'Cause I've been looking around
In the lost and found of my heart...
No one understands me
They view it as such strange eccentricities...
'Cause I keep kidding around
Like a child, but pardon me...
People say I'm not okay
'Cause I love such elementary things...
It's been my fate to compensate,
for the Childhood
I've never known...
Have you seen my Childhood?
I'm searching for that wonder in my youth
Like pirates in adventurous dreams,
Of conquest and kings on the throne...
Before you judge me, try hard to love me,
Look within your heart then ask,
Have you seen my Childhood?
People say I'm strange that way
'Cause I love such elementary things,
It's been my fate to compensate,
for the Childhood I've never known...
Have you seen my Childhood?
I'm searching for that wonder in my youth
Like fantastical stories to share
The dreams I would dare, watch me fly...
Before you judge me, try hard to love me.
The painful youth I've had
Have you seen my Childhood....
-MJ-

Sampai di sini, hati saya cukup tersayat-sayat, selama ini saya pikir Michael Jackson adalah salah satu artis yang tidak bisa menerima kenyataan tentang warna kulit dan bentuk wajah yang telah Tuhan takdirkan untuknya.

Ternyata di balik semua hal “ajaib” yang dia lakukan terhadap hidupnya. Ada sepenggal luka batin masa kecil yang terus menganga, tak kunjung reda … hingga akhir hayatnya. So, stop judging!

Dikutip dari TribunJambi.com dari berbagai sumber
"Masa lalu Michael Jackson terungkap pertama kali saat diwawancara oleh Oprah Winfrey pada tahun 1993.
Michael juga mengakui bahwa kedisiplinan yang diterapkan ayahnya membawa pengaruh besar bagi kesuksesannya.

Marlon Jackson (kakak ke enam MJ) menceritakan, pernah dalam suatu perselisihan, Michael diangkat terbalik kemudian dipukuli di punggung dan pantatnya.

Pernah juga di suatu malam, ketika Michael sedang tidur, Joseph (Ayah MJ) memanjat dari kamarnya ke pintu kamar Jackson. Dengan mengenakan topeng menakutkan, ia masuk ke kamar, berteriak keras menakut-nakuti Michael.

Joseph mengatakan bahwa ia melakukan itu untuk mengajarkan anak-anaknya agar tidak membiarkan jendela kamar terbuka ketika tidur.

Selama bertahun-tahun setelah peristiwa tersebut, Michael sering mengalami mimpi ia diculik dari kamarnya."

Michael Jackson yang kehilangan masa kecilnya, hingga ketika dia dewasa dia mencoba menghadirkan suasana "kekanakan" didalam hidupnya. Membuat taman bermain, kebun binatang dan banyak lagi di pekarangan rumahnya. Apakah dia bahagia? Sepertinya tidak, ada fase yang terlanjur hilang di dalam hidupnya. Atas nama disiplin dan kesuksesan.

... dan masih banyak lagi cerita miris tentang masa kecil Michael Jackson yang menyedihkan.

Memang, setiap orang tua memiliki pola asuh tersendiri untuk anak-anaknya, bahkan antara anak yang satu dan yang lainnya bisa jadi menggunakan pola asuh yang berbeda. Hal ini disebabkan karena perbedaan karakter dari setiap anak.

Kita tidak berhak menghakimi pola asuh orang tua lain, tapi setidaknya kita bisa menjadikannya sebagai pelajaran apakah itu baik atau justru sebaliknya.

ESQ PARENTING



ESQ Parenting adalah training Parenting yang mengajarkan dan menanamkan nilai nilai spiritual dan kecerdasaan emosional kepada keluarga. Dengan ESQ Parenting, orangtua mampu menumbuhkan dan mengelola potensi anak.

Mam, menjadi orang tua yang tidak ada sekolahnya ini sering membuat kita bingung bagaimana cara menyikapi tingkah anak-anak yang terkadang tidak terduga. Apalagi di era milenial ini, duh kalau ga punya ilmunya dan stock kesabaran yang banyak …  bisa-bisa kita jadi orang tua pemarah dan peng-hukum. Syereem kan?

Ilmu parenting sepertinya hanya itu-itu saja ya, Mam. Komunikasi … komunikasi dan komunikasi. Sepertinya sepele, tapi kalau tidak ada usaha untuk belajar dan memperbaiki diri sebagai orang tua, rasanya kita akan kewalahan sendiri ya, mam.

Qadarullah, Minggu, 04 Agustus 2019 kemarin digerakkan dan diringankan langkah saya menuju ESQ Parenting. Ga mau datang sendiri, saya mengajak de’Yaya yang alhamdulillah jadi partner yang asik selama games dan icebreaking di seminar kemarin. 

Seminar yang sangat bagus (terima kasih ESQ) untuk para orang tua dan calon orang tua, meski rasanya saya terlambat untuk mengikut seminar parenting seperti ini. Karena anak sudah dua dan beranjak ABG tapi baru tergerak sekarang mendalami ilmu parenting, hiks. 

Tapi, kata Bu Ida S Widayanti sebagai pemateri kemarin, ga ada kata terlambat untuk belajar, sejatinya belajar menjadi orang tua itu tidak ada batas waktu… terus belajar hingga akhir hayat.
Seminar ESQ Parenting kemarin rasanya belum cukup memenuhi “isi gelas” saya, kok jadi haus ilmu banget nih akunya.


Saya menyadari jadi orang tua yang baik itu bukan yang sering ikut seminar parenting, bukan juga yang rajin baca buku parenting. Karena sekali ikut seminar tidak langsung menjadikan kita Ibu yang baik. Jadi orang tua yang baik itu butuh proses dan pembelajaran yang panjang dan tiada habisnya. So, tetep semangat Mam, mengisi ulang “gelas-gelas kosong” kita. Karena menjadi orang tua itu pertanggungjawabannya berat, dunia dan akhirat. (self reminder)

Banyak ilmu yang didapat selama ESQ Parenting kemarin, tapi yang paling membekas adalah belajar dari masa kecilnya Michael Jackson. Dia dididik dengan sangat keras, dia dibesarkan dengan makian dan ejekan yang akhirnya terus dia bawa hingga dewasa. Orang tuanya mewariskan luka batin yang sangat dalam, kususnya sang Ayah. 


Mungkin niat sang ayah bagus, agar dia disiplin dan menjadi orang sukses. Tapi sebaik apapun niat kita jika disampaikan dengan cara yang tidak baik maka hasilnya juga tidak baik ya, Mam. Jadi dapat pelajaran lagi, niat yang baik harus disampaikan dengan cara yang baik juga, agar hasilnya sangat baik. Ah, kalau cuma ngomong mah kayaknya gampang banget, yak.

Mam, betapa saya sekarang sangat menyadari bahwa, kata-kata bisa menginspirasi namun juga bisa sangat menyakiti. Harus belajar menahan dan lebih bijak lagi mengeluarkan kata-kata. Benar apa kata pepatah bahwa lidah itu lebih tajam dari pada pisau.

Air matapun sempat menetes ketika menyadari banyak sekali kekeliruan saya selama ini dalam mengelola emosi, dalam berkomunikasi kepada pasangan dan anak-anak. Langsung saya tanya de’Yaya, "Dek, bunda pernah bikin sakit hati ga?" Dia langsung jawab, "pernah! Waktu bunda panggil adek, ndut kesayanganku.” 
Jleb! Yaa Allah … langsung saya peluk anak bontotku yang bertubuh subur itu dan meminta maaf. Memang aku sering menguyel-uyel perutnya sambil mencium lehernya dan berkata, “ndut kesayanganku” berkali-kali dan dia hanya senyum saja. Padahal jauh di dalam hatinya ada rasa kecewa karena merasa ibunya sendiripun tanpa sadar membully dia. (FYI: di sekolah, dia sering dipanggil “ndut” dan itu membuatnya sedih)


See, maksud hati ingin memanjakan tapi si adek malah sakit hati. Makanya, belajar ... belajar ... belajar... bundaa! (ngomong sendiri sambil gigit jilbab)
Duh, susahnya jadi orang tua yang sempurna. 

Wait! Tunggu dulu … saya tidak sedang mencoba menjadi orang tua yang sempurna. Saya hanya mau menjadi orang tua yang bahagia. Agar bisa memberikan kebahagiaan seutuhnya untuk keluarga tercinta. 

Karena, Kesempurnaan hanya milik Allah semata, tapi kebahagiaan milik seluruh hamba-Nya. Betul apa betul?
Bersama Bu Ida S. Widayanti pemateri dan penulis buku parenting, cuma kebagian 3 bukunya,
kehabisan diborong emak-emak keceh ESQ Parenting - Batam

Sampai di sini dulu sharing parenting ala alakadarnya kataheni.com hihihi semoga ada manfaatnya meskipun sedikit. Harap maklum karena saya juga sedang tahap belajar dan terus belajar. Semangat!
Thanks for visiting, gaes!

  • Share:

You Might Also Like

66 komentar

  1. Subhanallah terimakasih mbak sudah diingatkan kembali mashaallah

    BalasHapus
  2. Menyempatkan waktu untuk bermain sama anak, nah kadang nih ketika kita terlalu sibuk jadi lalai dan menganggap bahwa bermain sama anak itu bukan suatu hal yang krusial. padahal mah enggak ya, duh semoga kita bisa belajar jadi orangtua yang lebih baik lagi. Aamiin

    BalasHapus
  3. Kisah tentang MJ pernah juga dengar, kasihan ya, dia mengalami luka batin yang sangat dalam. Sebagai orang tua kita perlu terus belajar ya, resikonya sangat besar bagi masa depan anak-anak kita. Orang tua biasa VS orang tua bijak, beda banget ya,... Semoga semua orang tua terus mau belajar

    BalasHapus
  4. Padahal saat panggil de yaya ada kata kesayangannya ya, tetep dia gak suka.. aku akan menanyakan pertanyaan yg sama ke Alin ah, khawatir bgitu juga dan aku gak nyadar. Huhu... thx mam for sharing

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyes mam, harusnya ga usah pake embel2 ndut yah, duh aku ini... kembali kasih mam!

      Hapus
  5. Pernah baca tentang kisah MJ ini dan aku juga merasa tersayat. Kecerdasan anak dalam perihal emosi juga perlu didalami ya, semangat jadi orang tua cerdas

    BalasHapus
  6. Sedihnya itu kalau anak lagi buat ulah terus kita marahi sampai anaknya tertidur. Saat tidur itulah sedih dan menyesal sudah memarahi. Alhasil, mewek juga umminya sampai tertidur.

    BalasHapus
    Balasan
    1. huwaaa... aku sering kek gini mbaa... akhirnya mewek ndiri.

      Hapus
  7. Aku baru tau tentang masa kecil Michael Jackson seperti itu, kasihan ya.
    Langsung melihat ke diri sendiri, apakah aku sudah bisa menjadi orang tua yg baik buat anak-anakku. Ini akan menjadi pengingat buat diriku, meski sekarang anak-anakku sudah gede, tak ada kata terlambat untuk belajar ya seperti kata Bu Ida S Widayanti itu, belajar menjadi orang tua tidak ada batasnya. Makasih buat sharingnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga baru tahu mba, yuk ah semangat jadi happy parents!

      Hapus
  8. Saya pernah baca sekilas tentang masa kecil MJ, tapi gak menyangka kalau semua itu sangat membekas dan menimbulkan luka. Mungkin, ini juga yang membuatnya kemudian berulang kali melakukan oplas untuk mengubah wajahnya. Ya Allah, semoga anak-anak kita mendapatkan haknya memperoleh masa kecil yang bahagia dan menjadi kenangan yang indah hingga mereka dewasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba, katanya setiap dia ngaca trus keinget muka bapaknya... dia langsung mau oplas. pokoknya menghilangkan jejak bapaknya di dalam diri dia...

      Hapus
  9. Hiks baca paragraf awal kok aku nyesek ya mba... MJ itu korban. Korban dari kesalahasuhan ortunya. Dan akibatnya fatal banget. Makanya sebisa mungkin kita sebagai ortu harus bijak dan menerima anak apa adanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama mba aku jg nyesek... iyes bener menerima anak apa adanya sebagaimana anak menerima emaknya yg jg apa adanya yah

      Hapus
  10. ya alloh langsung deg baca ini, saya dan ayahnya anak2 masih suka marah2 dan kasar sama anak, harus banyak ilmu lagi ya alloh

    BalasHapus
  11. thanks much muchhhh reminder-nya ya Mak
    Iya nih, kudu banyak belajar plus ningkatkan keikhlsan demi jadi better mom
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    BalasHapus
  12. Iya ya...sepertinya kita harus tanya apa yang dirasakan anak tentang kita...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, coba tanya mba apa yg dia ga suka dari kita. Siap siap denger jawaban mereka yah hihihi

      Hapus
  13. Yuni belum pernah dengar kisah tentang MJ ini. Tapi ini membuat yuni menyadari pentingnya menyampaikan niat baik dengan baik juga. Terima kasih remindernya kakak.

    BalasHapus
  14. Aku sedang menikmati masa-masa full sama anak-anak, Mbak. Makanya semua kubuat selow karena prioritas di anak. Memang ada kalanya pengin berontak, tapi kalau dipikir lagi, ini kan nggak lama, daripada mereka kehilangan banyak hal di masa ini. Ya pada akhirnya memang selalu ada yang dikorbankan. Dalam hal ini, kalau bisa bukan anak agar derita seperti MJ nggak sampai terjadi pada anak2 kita. Nauzubillah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener mba, ga berasa anak mulai besar dan kita menua... jan sampe kita sama2 kehilangan masa2 indah dengan anak2.

      Hapus
  15. Waduw tersentil aku, hiks. Banyak banget minusku, dan barusan langsung nanyain si sulung hehe. Thanks sharing infonya bunda

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama2 mba, jangan balas nyentil yah hihihi

      Hapus
  16. Rumah MJ, pun sebetulnya sudah seperti menunjukkan seperti apa masa kecilnya. Neverland Valley Ranch lebih mirip seperti tempat wisata dan hiburan, terutama untuk anak-anak, daripada rumah. Ya, mungkin itu untuk menggambarkan bahwa masa kecilnya tidak seindah yang dibayangkan orang. Semoga kita semua mendapatkan pelajaran dari MJ

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener mba, MJ mencoba mengembalikan masa kecilnya yang terlanjur hilang. Duh sedihnyaa...

      Hapus
  17. betul mba, karena bahagia kunci dari segalanya. Apapun teori yang dikeluarkan oleh orang hebat tentang parenting, kadang gak selamanya bisa kita terapkan pada anak kita, karena setiap anak itu kan unik ya. dan yang paling tau sebenarnya ya kita sebagai orangtua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener mba, setiap keluarga punya pola asuh masing2 dan itu sah2 saja selama itu terbaik utk mereka.

      Hapus
  18. Saya baru tahu masa kecil Michael Jackson sedetil itu. Yang saya tahu dia memang mengalami masa kecil yang tidak sebahagia anak-anak pada umumnya. Dari tulisan Mbak Heni jadi tahu betapa miris kehidupan masa kecilnya ya...

    Memang sih, Mbak, belajar jadi orang tua yang baik itu gak ada habisnya. Kita harus mau terus belajar...belajar dan belajar demi anak-anak kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga tidak ada lagi anak2 yang masa kecilnya menderita seperti MJ ya mba

      Hapus
  19. Setiap anak punya keunikan masing-masing, dengan setiap masalahya, mungkin hanya keteladanan yang baik saja yang akan jadi bekal anak ya. Orang tua nggak boleh lelah terus belajar.

    BalasHapus
  20. Memang enggan ikut campur pendidikan anak orang lain. Tapi jika melihat ada kekerasan, statusnya jadi berubah wajib step in. Semoga edukasi parenting seperti ini dibaca banyak orangtua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mba, semoga dari kisah MJ ini banyak menjadi pelajaran ortu diluar sana.

      Hapus
  21. Memang sebagai orang tua kita dituntut untk belajar terus setiap harinya yah mbak.
    Being a mom is an everyday learning ceunah. Semoga kita bisa menjadi ibu yang terbaik bagi anak kita yah mbak. Amin

    Dan aku dulu pernah nonton biografinya Michael Jackson dan emang sedih banget sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku juga jd pengen nonton mba, tp blm nemu yg ada teks indonya. suara MJ kecil banget jd ga jelas dia ngomong apa.

      Hapus
  22. Duh aku beneran sedih melihat perlakuan orang tua nya MJ, nggak jauh-jauh ya ternyata bully itu justru asalnya dari lingkungan terdekat dari rumah, betapa hancurnya hati seorang anak dipojokkan seperti itu dimana seharusnya ortu lah jadi tempat ternyaman seorang anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, mungkin justru itu yg paling menyakitkan, bully dr orang terdekat. duh sedih banget!

      Hapus
  23. Aku terhenyak lho membaca kisah masa kecilnya MJ. Beneran baru tahu. Mungkin itu sebabnya ya dia banyak bikin lagu untuk perdamaian dan anak-anak. Makanya, di rumah pun aku sebisa mungkin mencurahkan perhatian dan kasih sayang pada anak-anak. Mereka suka dipanggil apa kalau itu baik aku ikuti. Semoga kita semua terhindar dari sikap menjadi orangtua yang sengaja atau tidak sengaja membully anak-anaknya.

    BalasHapus
  24. Aku langsung ngaca masa kak, berasa tersentil pas baca. bismillah insya Allah kedepannya aku akan terus belajar memperbaiki diri.

    BalasHapus
  25. Luka Masa kecil yang belum sembuh bisa berpengaruh sampai ia dewasa. Sedih ya melihat perjalanan hidup Michel Jackson.

    Pendidikan orangtua yang keras Dan dislipin membawa ke puncak Karir dengan hati yang terluka

    BalasHapus
  26. Aku baca bebebrapa buku tulisan Ibu Ida S. Widayati.
    Dan mashaAllah~
    Ketika kita sadar bahwa anak-anakini adalah titipan Allah, maka...mana berani kita memperlakukan mereka seperti yang kita mau.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya Allah bener mba, kalau kita menyadari anak adalah titipan... pasti selalu dijaga baik2 yak

      Hapus
  27. TErus belajar sampai kapanpun untuk menjadi orang tua yang baik ya mbak. Anak yang sering kena bullyan juga ternyata berdampak gak baik ya besarnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba, yuk semangat belajar jd better mom!

      Hapus
  28. Aku ingat waktu nonton tayangan Oprah Winfrey dengan Michael, bahakn bikin mataku berkaca. Sedih masa kecilnya namun ia mampu bangkit dan memiliki prestasi dari sekian anak-anak keluarga Jackson. Meski meninggalkan bekas luka psikis yang tak sembuh hingga dewasa.

    Orang tua mestinya menjadi tempat berlindung anaknya dari kekerasan fisik maupun psikis. Masa anak-anak harus lah menggembirakan, bukan menakutkan ya

    BalasHapus
  29. Duh ngeri ya bacanya makanya jd orang tua itu memang hrs punya bekal ilmu bukan buat hidup saja tp ilmu parenting penting banget ya... Maksud baik bs jd jelek akibatnya kalau salah caranya.

    BalasHapus
  30. terima kasih mbak sharingnya, saya juga sednag belajar menjadi orang tua. tantangannya menjadi semakin besar manakala anak kita semakin besar pula.

    BalasHapus
  31. Saya lagi tahap pembelajaran menjadi orang tua yang baik dalam hal merawat dan mengatur emosi. Huhu jujur saja agak sulit memang tapi insya Allah semoga anak2 bisa tetep happy dimana pun dia berada , begitu juga terhindar dari bully.

    BalasHapus
  32. mbaa teriakasih ilmunya yang bermanfaat ini aku juga terkadang kalau sibuk sedikit sedikit menyempatkan untuk mengobrol bersama anak

    BalasHapus
  33. Aku seneng kalau banyak informasi seperti ini. Sebagai orang tua, kita tidak berhenti belajaar

    BalasHapus
  34. Tertohok bacanya, aku juga kyknya masuk ortu yang esmosian mbak :( Trus abis ngomelin anak eh pas mereka bobo baru deh nyesel ;(
    Terima kasih sharingnya jd pengen punya buku2 ESQ parenting jg....

    BalasHapus
  35. Aku lumayan ngefans sama alm MJ, dan baca kisah hidupnya. Bagaimana Ayahnya menciptakan dia jadi bintang yang dimau, bagaimana MJ banyak kehilangan masa kecil yang penuh bermain, efek dari semua itu membuat bagian dalam jiwanya sakit, sedih ya. Cermin buat kita sebagai ortu

    BalasHapus
  36. Izin copasbeberapa kalimat yang menohok banget di hatiku sebagai status di WAku, ya, Bun. Kini aku jadi seorang ibu, dulu, saat masih jadi anak bahkan kini pun maish sering mendapatkan kalimat-kalimat remehandari ibuku, Bun. Iya, nyesek banget rasanya. Aku tahu maksud beliau baik. Tapi, yaitu tadi, maksud baik harus diucapkan dengan kalimat yang baik pula.

    BalasHapus
  37. Meski belum memiliki anak, aku tetep harus menimba banyak ilmu macam ini. Makasih banget mba Heni, sudah share pentingnya belajar dari masa kecil. Sampai sekarang aku juga masih sering dinasehati ibu banyak hal. Seneng

    BalasHapus
  38. Yahhh betul sih,Di jaman yang milenial seperti ini mungkin orang tua bisa menjadi teman kepada anaknya, teman bermain, teman curhat, supaya orang tua bisa mengetahui minat dan bakat yang dimiliki anaknya kelak. Sehingga kedepannya bisa mengarahkan ke minat dan bakat yang mereka kuasai.

    Wahhh bagus nih belajar parenting gini, jadi tau banyak hal hehe :D

    BalasHapus
  39. Kadang rasanya seperti sudah membudaya, panggilan akrab atau sayang, justru dengan kata yang berbau body shaming. Astaghfirullah...

    BalasHapus